Resep Merayakan Bulan K3 Nasional Ala Agincourt Resources Martabe

Seminar dan Workshop Bulan K3 Nasional 2022 Bersama Agincourt Resources

MINE SAFETY – Raut wajah Rahmat Lubis, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Agincourt Resources (PT AR) sumringah. Dia begitu bersemangat memberikan pandangannya tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di perusahaan pertambangan mineral batangan emas dan perak dari Sumatra Utara itu. 

Hal tersebut disampaikan Rahmat dalam Seminar dan Workshop sebagai rangkaian kegiatan APKPI Kampanye Keselamatan Pertambangan Mine Safety Campaign dalam rangka Bulan K3 Nasional 2022 bersama PT Agincourt Resources bertemakan ‘Membangun Keselamatan Pertambangan yang Tangguh Dalam Menghadapi Era Digitalisasi’ pada Sabtu, 29 Januari 2022. 

Rahmat yang juga sebagai General Operational Agincourt Resources itu mengutarakan K3 adalah aspek penting dan tidak bisa diremehkan dalam industri pertambangan karena ada risiko kehilangan nyawa dan cacat fisik yang jika manajemen lengah yang merupakan korban adalah pekerjanya sendiri. 

Pemesanan buku RSL (Resilient Safety Leadership)

Agincourt Resources yang memiliki area operasional seluas 479 hektare tambang emas Martabe di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Mandailing Natal itu, kata Rahmat, tidak akan berhenti dalam menyebarkan nilai K3 kepada segenap manajemen perusahaan.

“Ini bulan sangat penting bagi kita, tetapi K3 harus sepanjang tahun kita rasakan. Kami di Martabe, merayakan bulan K3 dengan kegiatan strategis, promosi melalui lomba K3, hingga inspeksi di lapangan. Kita ada di industri ini karena ada bahan tambang yang melekat dengan target produksi setiap waktunya,” kata Rahmat. 

Dia mengingatkan agar perusahaan tambang mesti menyadari sedini mungkin tentang K3 supaya tidak terjebak pada aspek produksi saja. Perusahaan pertambangan, papar Rahmat, dituntut oleh target produksi harian, mingguan, bulanan, kuartalan, dan tahunan. 

Namun, menurutnya, ada hal-hal yang selalu bisa terjadi sewaktu-waktu saat ada rekan kerja yang mengalami kecelakaan kerja jika perusahaan lengah. “Kalau kita lengah 5-10 menit saja, ada teman-teman kita yang celaka di sana. Oleh karena itu, bulan K3 ini sangat penting, dan harus sepanjang tahun bergema hingga 2023 mendatang,” harap Rahmat.

Sebagai informasi, Agincourt Resources mempekerjakan 3.000 karyawan dan kontraktor yang lebih dari 70% pekerjanya adalah masyarakat setempat. Perusahaan ini berproduksi dimulai pada 24 Juli 2012 hingga 30 Juni 2020 tercatat mencapai sebanyak 7,6 juta ounce emas dan 66 juta ounce perak. Kapasitas operasi tambang emas melebihi 6 juta ton bijih per tahun untuk menghasilkan lebih dari 300.000 ounce emas dan 2-3 juta ounce perak per tahun.  

Direktur APKPI Alwahono mengutarakan hal serupa tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Dia menyoroti aspek keselamatan dari sisi adaptasi individu atau perusahaan. 

“Kondisi perubahan jaman, sosial dan perubahan teknologi yang cepat dinamikanya jika tidak dapat beradaptasi, tidak dapat menyesuaikan diri maka akan menjadi orang yang tertinggal,” terangnya.  

Khusus dalam mengelola keselamatan pertambangan (KP), jelas Alwahono, manajemen mesti memahami filosofi dasarnya. Masih saja ditemuinya, menurut Alwahono, safety (keselamatan) masih dianggap sebagai prioritas bukan nilai. 

“Maka masih dijumpai di lapangan, timbul pertanyaan safety dulu apa produksi dulu. Ini pola pikir yang belum menjadi nilai. Padahal, kita menerapkan safety agar produksi lancar, orang selamat. Misalnya, ada pekerja meninggal, tambang harus tutup maka tidak jadi produksi bukan?” kata Alwahono. 

Begitu pula disampaikan Dewan Pengawas APKPI Eko Gunarto dalam diskusi itu. Apabila terjadi kecelakaan kerja bukan hanya menimpa pekerjanya tetapi jikia prasarana dan sarana kerja rusak bisa menimbulkan kerugian besar pula. 

“Kerugian material, semangat dari karyawan luntur. Oleh karena itu, pemerintah tidak ingin sekadar pekerjanya selamat dan sehat tetapi sarana dan prasarana aman, efektif dan efisien sehingga senantiasa produktif. Maka ada Keselamatan Operasional (KO). Yang terjadi banyak kawan-kawan mengalami kecelakatan karena peralatan kerja tidak terpelihara atau terawat dengan baik,” papar Eko. 

Eko yang berpengalaman sejak 1982 melihat langsung dan tidak langsung atas kejadian kecelakaan kerja di wilayah tambang mendapati bahwa sarana prasarana sebagai bagian peralatan kerja tidak terawat dengan baik. 

“Banyak kasus-kasus alat itu tidak layak dioperasikan, nah orangnya memang tidak cidera tetapi alatnya rusak. Seperti misalnya, instalasi gagal beroperasi karena tidak ada pengamanan instalasi,” tuturnya.

Post a Comment

Post a Comment