ERT Terstandar untuk Keselamatan Kerja

ERT, Wiyono Minarno, ERG, emergency response group,

Wiyono Minarno, Direktur Indonesia Road Rescue Organization


Tim tanggap darurat atau emergency response Team (ERT) memiliki fungsi untuk menangani berbagai masalah dan kondisi darurat pada suatu kejadian tak diinginkan yang berkaitan dengan perusahaan.  

Dalam kondisi darurat, memerlukan suatu penanganan sesegera mungkin ketika kecelakaan akibat kerja terjadi di lingkungan kerja.

Wiyono Minarno, Direktur Indonesia Road Rescue Organization mengatakan, ada beberapa referensi yang menjadi rujukan dalam pengelolaan kedaruratan di lingkungan kerja, antara lain NFPA 2500-Standard Operasi & Training Untuk Fire Rescue, NFPA 1006 - Kualifikasi Personil, International Mine Rescue Body, dan Handbook of Training in Mine Rescue & Recovery Operations (2021).

“Tujuan utama dibentuknya suatu tim emergency response adalah agar dapat melakukan respons secara efisien, artinya cepat tertangani, tim yang dikirim sesuai, perawatan yang diberikan benar, dan dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu,” jelas dalam kegiatan Safety Sharing Session Batch XVIII yang dilaksanakan secara virtual, Rabu 16 Maret 2022.

Untuk dapat melakukan respons keadaan darurat yang efisien, diperlukan prosedur dan tindakan standar untuk memastikan bahwa koordinasi personil dan peralatan yang digunakan tepat serta pada waktu yang sesuai.

Terdapat tiga Elemen Dasar dalam membentuk ERT, atau yang kerap disebut emergency response Group (ERG). Ketiga elemen tersebut antara lain, analisa risiko dan monitoring, minimum ERG (Minimum Preparedness Actions), dan Advance Preparedness Action.

Umumnya, pengelolaan kedaruratan ini hanya dibutuhkan pada tahap minimum ERG. Namun pada kasus tertentu dengan tingkat kedaruratan yang sulit, diperlukan ERG tingkat lanjut sehingga membutuhkan kapasitas ahli.

Dalam pembentukan ERG, kuncinya terdapat pada kebutuhan yang dimiliki, fleksibilitas tim, serta kemampuan menganalisa risiko dan kesiapan dalam merespons suatu kondisi darurat. Selain itu, tim ERG akan lebih siap menghadapi kondisi darurat apabila dilatih melalui kegiatan simulasi secara reguler minimal enam bulan sekali.

“Kemudian yang tidak kalah penting adalah strategi kepemimpinan dan komitmen kuat dari manajemen,” katanya.

Pembentukan ERG dalam sebuah perusahaan pertambangan diarahkan berdasarkan kebijakan pemerintah, panduan yang berbasis analisis risiko di daerah pertambangan, prosedur yang dibuat, kebijakan jumlah personil yang terlatih, dan kompetensi yang dibutuhkan.

“Kompetensi yang dibutuhkan dalam ERG itu orang-orang yang minimal punya sertifikat yang masih berlaku untuk first aid atau pertolongan pertama,” jelasnya.

Dalam pertambangan, aspek tambahan yang perlu dipertimbangkan dalam pembentukan tim ERG adalah Standard Mine Rescue Officer, Standard Mine Rescue Substation, dan Transportation.

Dalam pembentukan tim ERG, pemilihan anggota tim sebaiknya memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Anggota yang direkrut menjadi tim ERG disarankan yang  sudah mengenal pekerjaan di area tambang, berusia 21-45 tahun, memiliki fisik yang bugar, dan mampu mengontrol diri. Selain itu, diperlukan tenaga medis yang dilibatkan menjadi tim ERG.

Di sisi lain, kehadiran tim ERG wajib dilengkapi dengan peralatan-peralatan penanganan kondisi darurat yang terstandar. Ada tiga macam peralatan yang digunakan, antara lain peralatan minum, emergency equipment, dan special equipment.

“Untuk hal ini tentu memerlukan komitmen dari atasan dalam menyediakan peralatan-peralatan yang dibutuhkan,” pungkasnya.

© all rights reserved allsysmedia.com
APKPI