Tfz9BSAlTfr7TSGlTUM5TfAlGA==

HAPIJIRA : First Aid (Penanganan Dasar Keadaan Darurat Medis)

HAPIJIRA

Grafis & Teks : Agung Budiarto*

HAPIJIRA  minggu ini kami mencoba menyampaikan tentang pertolongan pertama sebagai penanganan Dasar Keadaan Darurat Medis. Dengan harapan setelah membaca dan memahami judul diatas, pembaca akan memahami kondisi yang memerlukan pertolongan Pertama Keadaan Darurat Medis, Melakukan langkah-langkah awal darurat medis agar cidera tidak menjadi lebih parah dan Berkoordinasi dengan Team First Aider dan Emergency Response Team untuk penanganan lebih lanjut.

Mengapa Perlu First AID ?

First Aid diperlukan saat terjadinya insiden pada manusia yang sangat penting dalam Menyelamatkan jiwa / nyawa korban, selain itu juga bertujuan untuk Menghilangkan / mengurangi rasa sakit korban dan Mencegah, melindungi dan mempertahankan korban dari keadaan yang lebih buruk / cidera lebih parah sampai pertolongan lebih baik diberikan oleh Tim Paramedis terdekat.

Istilah dan definisi First Aid 

Bantuan yang diberikan kepada seorang korban kecelakaan atau orang yang menderita penyakit atau “Upaya memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja/buruh atau orang lain yang berada ditempat kerja, yang mengalami sakit atau cidera ditempat kerja” 

Tempat Kerja

“Tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber sumber bahaya sebagaimana diperinci dalam pasal 2 Undang –Undang No 1 tahun 1970” 

Penanganan Kedaruratan Medis

RJP ( Resusitasi Jantung Paru) atau kita mengenal dengan CPR ( Cardiopulmonary  Rescutitaion ) adalah prosedur pertolongan pertama untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Karena itulah, teknik Resusitasi atau CPR harus dilakukan dengan benar dan tepat. Antara lain dengan melaksanakan langkah langkah dibawah ini.

  • Melakukan Penilaian Risiko
  • Teknik RJP yang biasanya dikenal dengan istilah D-R-C-A-B ( Danger, Response, Compresion, Airway dan Breathing)
  • Penanganan Awal dan 
  • Penanganan Tindak lanjut oleh Paramedis

HAPIJIRA


Penilaian Risiko 
Langkah – langkah dalam melakukan penilaian risiko terbagi menjadi sebagai berikut :
  • Lakukan Observasi, gunakan Akal Sehat dan buat Diagnosa Pertama melalui informasi yang telah didapatkan.
  • Jika anda tidak kompeten menangani korban, hubungi tim medis dengan menyebutkan :
  1. Nama dan telepon anda
  2. Lokasi yang tepat dari Insiden tersebut
  3. Suatu petunjuk dari keseriusan kecelakaan tersebut
  4. Jumlah para korban
  5. Pertolongan pertama apa yang telah diberikan
  6. Jika anda mampu dan telah menerima pelatihan darurat medis, lakukan penanganan korban sebaik mungkin.
  7. Jika tidak ada bahaya jangan memindahkan korban. Pindahkan korban bila bahaya masih ada dan semakin gawat.
  8. Pindahkan penyebab kecelakaan atau sesedikit mungkin memindahkan korban ke tempat yang aman, dan
  9. Selalu gunakan Alat Pelindung Diri Standar (Sarung tangan medis, helm, sepatu safety, reflective vest).

Penanganan Awal  Korban
Dalam Melakukan penanganan awal korban diharapkan mengacu pada prinsip D-R-C-A-B , berikut penjelasannya.
  • D - Danger, petugas medis harus mengamankan dahulu situasi dan kondisi sebelum menangani korban
  • R - Response, melakukan penilaian kesadaran kepada korban secara langsung (ditepuk pipi, digoyangkan bahunya) maupun secara tidak langsung (dipanggil),
  • C - Circulation, melakukan pemeriksaan tanda vital korban seperti denyut jantung, denyut nadi dan laju pernapasan korban). Jika korban sadar,  posisikan dan pertahankan jalan napasnya,
  • A - Airway, yaitu mengamankan jalan napas korban dengan membersihkan jika ada sumbatan atau benda asing, serta
  • B - Breathing, yaitu mengecek laju pernapasan korban, menjaga pernapasan korban agar tetap belangsung dengan baik, melakukan pernapasan buatan dari mulut jika terlihat pernapasan berhenti. Hendaknya saat melakukan bantuan pernafasan wajib menggunakan alat agar tidak terjadi kontak mouth to mouth antara penolong dan korban, hal ini semata – mata agar menghindari tertularnya penyakit yang serius.

D- Danger;
Prioritas utama adalah selalu menjaga keselamatan Diri Sendiri. Periksa tanda tanda risiko/potensi bahaya sebelum memulai proses penyelamatan /  pengamanan / pertolongan terhadap korban.

Pengamanan Diri Sendiri :
Tanyakan/assessment pada diri sendiri dangan menjawab pertanyaan dibawah ini “Apakah :
  • Anda tidak dalam kondisi terancam cidera ?
  • Anda dapat mengusai diri anda sendiri ?
  • Memahami apa yang telah/sedang terjadi ?
  • Mengingat apa yang seharusnya dilakukan ?

Mendektesi Bahaya Lingkungan Sekitar :
Sebelum melakukan pertolongan terlebih dul Periksa Kondisi Sekeliling :
  • Apakah ada alat atau peralatan yang tidak stabil dan bisa mengancam manusia / korban
  • Apakah ada bahan yang dapat menimbulkan resiko baru (gas, terbakar, tumpah, meledak dll)
  • Ada lokasi tempat kejadian memungkinkan dilakukan tindakan awal (lereng, tepi air, di atas air dll)
  • Amankan terlebih dahulu kondisi lingkungan atau gunakan alat bantu yang sesuai

Pengamanan Korban :
Jika terdapat korban manusia
  • Fokus pada korban dengan tanda vital (sadar, nafas, gerakan, suara) yang dapat diperhatikan 
  • Jangan Memindahkan Korban

Kita Hanya Boleh Memindahkan Korban Jika  :
  • Ada bahaya yang mengancam saat itu
  • Kondisi korban kritis dan posisinya saat itu menghalangi anda memberikan pertolongan
  • Jika terpaksa dipindahkan :
  • Jaga leher dan tulang punggung tetap lurus
  • Tarik korban pada kerah
  • Tarik korban pada kedua bahu atau kedua kaki

Gangguan vs Ancaman
4 Menit Kritikal
Salah satu penyebab umumnya kematian akibat kecelakaan adalah hilangnya asupan oksigen pada korban. Hal ini terutama disebabkan karena jalan nafas tersumbat. Pada kebanyakan kasus hanya membutuhkan waktu kurang dari 4 menit, sumbatan jalan nafas akan menyebabkan kematian

Golden Hour
Satu jam pertama setelah terjadinya trauma disebut ‘Golden Hour’. Jika penanganan yang tepat diberikan kepada korban, kesempatan untuk selamat akan lebih besar dan tingkat keparahan cederanya akan lebih rendah.

HAPIJIRA

R – RESPONSE
Memastikan apakah korban berada dalam keadaan sadar.

HAPIJIRA
Pemeriksaan Kesadaran Korban 

Langkah langkah yang dapat dilakukan :

Panggil nama korban dengan KERAS, melalui pertanyaan :

  1. Sebutkan nama Anda ? (Jika korban dapat merespon secara verbal)
  2. Dapatkah anda membuka mata anda? (Jika korban tidak dapat merespon secara verbal)
Guncangkan tubuh pada Bahu

Response Korban :
Ada Response
  • Jika tidak ada bahaya lebih jauh, tinggalkan pada posisi ditemukan dan minta bantuan jika diperlukan
  • Obati luka dan pantau tanda-tanda vital – derajat respon, denyut dan nafas
  • Lanjutkan pemantauan korban sampai bantuan datang atau korban pulih.

Jika Tidak Ada Response
  • Teriak Tolong.
  • Jika mungkin, biarkan korban pada posisi saat ditemukan dan buka jalan nafas.
  • Jika tidak mungkin, balikkan korban telentang dan buka jalan nafas.

CIRCULATION
Carilah tanda tanda apabila terjadi pendarahan hebat/besar setelah pemeriksaan lainya telah dilakukan. Penekanan harus dilakukan pada area-area pendarahan. Korban harus selalui dimonitor dan ditangani  segera apabila terdapat gejala gejala shock.

Periksa Denyut Jantung
Tempatkan dua jari pada leher korban (tepat di sebelah buah jakun pada laki-laki, atau pada tengah leher depan pada korban perempuan). Rasakan selama 10 detik. Perhatikan, apakah ada denyut, dengar dan rasakan apakah ada nafas, batuk, atau gerakan atau tanda-tanda kehidupan lain.

Jika Ada Denyut, Tidak Sadar dan Tidak Bernafas.
  • Berikan 5 nafas buatan dalam 10 detik
  • Panggil ambulans
  • Setelah kembali ikuti urutan resusitasi nafas lagi dengan kecepatan 15 nafas per menit.
  • Bertindaklah berdasarkan apa yang anda temui, awasi CAB.
  • Jika korban korban tidak bernafas normal  atau jika ada keraguan apakah nafasnya normal, kembali lakukan nafas buatan.

Jika Tidak Ada Denyut, Tidak Sadar, Tidak Bernafas
  • Tanpa oksigen, sel otak akan mati dalam hitungan menit.
  • Minta bantuan
  • Jika anda terlatih, lakukan nafas dan denyut secara buatan dengan kombinasi nafas buatan dan pijatan jantung yang dikenal sebagai CPR (cardio pulmonary resuscitation – resusitasi jantung paru – RJP).
  • RJP dilakukan pada kecepatan 30 tekanan – 2 nafas buatan dan seterusnya.
  • Jika anda tidak terlatih, lakukan pijat jantung tanpa nafas buatan dengan kecepatan 2 tekanan per detik dan awasi korban hingga paramedis tiba.

Tidak Sadar, Tidak Bernafas, dan Tidak Berdenyut
  • Tanpa oksigen, sel otak akan mati dalam hitungan menit. Kita dapat membuat nafas dan denyut secara buatan dengan kombinasi nafas buatan dan pijatan jantung yang dikenal sebagai CPR.
  • Minta BANTUAN dan awasi korban

PIJAT JANTUNG (CHEST COMPRESION)
  • Kedua tangan ditumpuk di dada (diantara dua puting di atas tulang rusuk), siku lurus dan bahu  tepat di atas tangan
  • Tekan dengan berat badan (bukan hanya tangan) sedalam 5 cm. Tekan kuat dan cepat – dua tekanan dalam satu detik.
  • Setelah 30 Tekanan, dongakkan kepala angkat dagu, berikan dua nafas buatan. Jika ada, minta orang lain untuk memberikan nafas buatan dan setelah anda melakukan 30 tekanan.  Satu siklus RJP adalah 30 tekanan – 2 nafas buatan.
  • Jika Korban tetap tidak bergerak setelah 5 siklus panggil ambulance
  • Teruskan hingga ada tanda-tanda gerakan atau paramedis tiba.

AIRWAY (Jalan Nafas)
Pastikan bahwa saluran nafas korban terbuka dan tidak terhalangi / tertutup. Jika korban berada dalam kondisi tidak sadar, miringkan kepala kebelakang dan angkat dagu korban untuk membuka jalan nafas.

Pemeriksaan
  • Apakah jalan nafas (hidung, mulut dan tenggorokan) terbuka
  • Bebas dari sumbatan benda asing (muntahan, gigi yang patah, dll)

Pembersihan
  • Keluarkan benda yang menyumbat jalan nafas
  • Sandarkan pada posisi miring, dongakkan kepala
  • Buka mulut dan bersihkan dari benda asing (muntahan, gigi patah dll)
  • Pegangi kening korban dengan satu tangan
  • Pegangi dagu dengan tangan satunya
  • Jangan menggulingkan korban telentang, karena lidah dapat jatuh dan menyumbat tenggorok dan menutup jalan nafas.
INGAT !! selalu ada kemungkinan cedera tulang punggung. Jaga leher dan tulang punggung tetap lurus.

Manuver Head – Tilt – Chin – Lift
Buka jalan nafas dengan cara menempatkan satu tangan pada kening korban dan tarik kepala ke atas dengan hati-hati, angkat dagu dengan 2 jari saja.

BREATHING
Anda perlu memastikan apakah pernapasan korban berjalan dengan normal melalui metode lihat, dengar dan rasakan nafas dari korban.

Lihat – Dengar – Rasakan
  • Selama 10 detik lihat, dengar dan rasakan apakah korban bernafas
  • Lihat apakah dada bergerak naik turun ?
  • Dengarkan nafasnya ?
  • Rasakan nafas pada pipi anda ?

Jika Korban Sadar dan Bernafas
  • Periksa denyut (termasuk periksa apakah ada perdarahan hebat)
  • Lakukan tindakan pertolongan
  • Minta bantuan yang diperlukan
  • Periksa keadaan yang mengancam lain, seperti perdarahan hebat dan lakukan tindakan yang perlu.

Jika Korban Tidak Sadar dan Bernafas
  • Tempatkan korban pada Recovery Position.
  • Periksa denyut (termasuk periksa apakah ada perdarahan hebat)
  • Lakukan tindakan atas kondisi yang mengancam nyawa
  • Panggil ambulan

Recovery Position
Seorang korban yang bernafas normal namun tidak ada ancaman kematian
  • Gulingkan korban ke sisi tubuhnya.
  • Angkat dagu ke depan untuk membuka jalan nafas dan atur tangan di bawah pipi seperlunya.
  • Periksa korban hingga tidak terguling.
  • Pantau nafas dan denyut terus menerus.
  • Putar korban ke sisi lain setelah 30 menit, jika cedera yang dialaminya memungkinkan.
Note : 
Tidak dilakukan jika nafas belum stabil atau dicurigai ada cedera tulang punggung,  maka gunakan teknik Jaw Thrust. Tempatkan tangan pada kedua sisi kepala. Dengan ujung-ujung jari angkat rahang korban untuk membebaskan jalan nafas. Hati-hati untuk tidak mengangkat leher korban.

Jika Korban Tidak bernafas
Lakukan prosedur pemberian nafas buatan (EAR - Expired Air Resuscitation). Pada awal, nafas buatan diberikan sebanyak 2 nafas penuh.
  • Ganjal kepala dan leher
  • Telentangkan tubuh
  • Berikan nafas buatan, 2 nafas penuh.
Note :
Volume udara yang diberikan pada orang dewasa adalah sebesar 700-1000 mL atau sampai dada korban terlihat mengembang. Karena konsentrasi oksigen di udara hanya 16-17% maka, penolong harus menghirup nafas yang dalam saat akan meniupkan udara hingga tercapai volume yang cukup.

Nafas Buatan :
Dongakkan kepala angkat dagu untuk membuka jalan nafas

Bentuk seal :
  • Jika menggunakan face shield atau masker, pasang pada wajah, rapatkan dengan jari
  • Jika dilakukan mulut-ke-mulut, tempatkan mulut anda pada mulut korban hingga rapat.
  • Pencet hidung korban, menggunakan tangan yang menahan kepala agar tetap mendongak.

Berikan dua nafas buatan :
Ambil nafas seperti biasa, dan berikan satu-detik-panjang nafas buatan. Lihat gerakan naik dada korban pada setiap nafas buatan yang diberikan

Jika dada tidak terangkat :
kemungkinan udara tidak masuk ke jalan nafas. Dongakkan kembali kepala korban dan berikan dua nafas buatan. Jika tetap tidak bernafas, mungkin jalan nafas tersumbat.

Jika korban mulai bernafas : 
Posisikan korban pada RECOVERY POSITION dan tunggu paramedis.

Jika korban tetap tidak bernafas :
Jika anda terlatih lakukan pijat jantung (chest compression). Jika tidak, minta bantuan.

Demikian Paparan dari pertolongan pertama dengan konsep D-R-C-A-B. Semoga bermanfaat bagi para Pembaca yang budiman. Mohon Maaf dan Terimakasih

Ditulis dengan Referensi UU No.1 tahun 1970. (BritishRedCross, 2010).dan sumber – sumber lainnya 

Staf Pengajar PT. Allsys Solutions*

HAPIJIRA