Mengenal Fire Forensic Dari Adrianus Pangaribuan Pemegang Sertifikat FEI Amerika Serikat

Fire Forensic, Adrianus Pangaribuan, Kebakaran Tambang, Debu Tambang, Elektrostatis, Fire Explosion, Forensik Kebakaran

Peserta S3 APKPI, bersama Adrianus Pangaribuan (kemeja batik kanan atas). Foto: APKPI

MINESAFETY -- Segenap insan pertambangan perlu memperdalam wawasan forensik kebakaran agar terbiasa mendeteksi penyebab kebakaran di lokasi tambang guna menghindari kebakaran yang sama dan menghindari kecelakaan kerja karyawan dan kerugian perusahaan.

Perhatian terhadap potensi kebakaran di pertambangan itu menjadi topik webinar Safety Sharing Session (S3) oleh Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI), pada Rabu (31 Agustus 2022) dengan tema 'Fire Forensic Investigation in Mining'.

Pembicara S3 batch ke-28 itu menghadirkan Adrianus Pangaribuan, Fire & Explosion Professional Forensic Investigator dan sebagai moderator Rahmad Subagyo selaku Bendahara APKPI.

Adrianus merupakan doktor bidang enggineering dari Universitas Indonesia itu merupakan pemegang pertama dari Indonesia sertifikat Fire and Explosion Investigation (CFEI) dari National Association Fire Investigation (Amerika Serikat).    

Direktur APKPI Alwahono mengatakan asosiasi menilai diskusi tentang forensik kebakaran sangat penting apalagi di industri pertambangan. Biasanya, lanjut dia, investigasi forensik kebakaran lebih familiar di telinga masyarakat dalam hal kebakaran gedung, kilang minyak, atau kebakaran lahan dan hutan (karhutla).

"Edisi malam ini spesial karena topik yang kita bahas tentang investigasi forensik kebakaran di pertambangan. APKPI langsung mendatangkan pakarnya yang ahli di forensik kebakaran. Wawasan tentang fire forensic sangat dibutuhkan dalam industri," kata Alwahono.

Menurutnya, keberadaan forensik kebakaran sangat dibutuhkan agar dapat dianalisa sumber penyebab kebakaran termasuk kebakaran di pertambangan. Dia menilai sering kali publik atau orang sekitar terjadinya kebakaran menyimpulkan apabila kebakaran dari sumber aliran listrik maka penyebabnya adalah aliran listrik tersebut.

"Padahal sumber lain belum terdeteksi, dengan forensik kebakaran maka bisa diketahui sumbernya dari mana. Forensik juga untuk mengetahui pola kebakaran," ucapnya.

Maka dari itu penyebab kebakaran dari pertambangan, Adrianus Pangaribuan memiliki sejumlah sumber yang menyebabkan potensi kebakaran, misal salah satunya dari debu batubara. Adrianus memberikan pandangan, potensi kebakaran di site tambang bisa muncul dari debu batubara.

Dia menerangkan dari keberadaan debu batubara apabila sebanyak 48 hingga 60 gr kubik dari partikel debu batubara rerata di bawah 200 mikron, menurutnya, dapat menjadi sumber peledak memicu kebakaran di site tambang.

"Tujuan forensik itu supaya bisa mencegah dan tidak terjadi lagi di tempat yang sama. Saat kebakaran itu saja temperatur sangat panas atau tinggi bisa mencapai 1.000 derajat celsius, selain itu oksigen lagi yang memproduksi bahan bakar baru," kata Adrianus.

Sumber kebakaran di pertambangan yang kurang jeli mendapat perhatian saat mencari tahu penyebabnya, tambah Adrianus, sering pula dari elektrostatis atau listrik statis. Dia melihat seringkali kesalahan ditujukan kepada listrik dan mengabaikan electro statis.

"Selama ini yang terjadi, orang melihat penyebab kebakaran bersumber dari listrik. Kemudian, bangun gedung baru, listriknya dibikin bagus dan elektro statisnya tidak. Terjadi kebakaran lagi, dan penyebabnya ternyata di elektro statis," ujar Adrianus.

Adrianus menekankan pula setiap kebakaran yang tidak hanya di pertambangan tetapi di sektor industri lain yakni jeli melihat pola kebakaran terjadi karena dari situ dapat diketahui penyebab kebakaran.  

© hak terpelihara
supported by borneoglobe.org