Kelola Ergonomi Supaya Pensiun Kerja Tubuh Sehat


MINESAFETY -- Pengelolaan ergonomi sebagai bagian penting Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik dalam manajemen perusahaan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja agar orang dapat bekerja dengan aman dan efisien.

Pengajar K3 Universitas Sebelas Maret (UNS) Tarwaka mengatakan tujuan ergonomi untuk menselerasikan hubungan manusia dengan sekeliling kerjanya, mencakup hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan software atau hardware, dan manusia dengang lingkungan sekitarnya.

"Ergonomi sudah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. 5/2018 tentang K3 Lingkungan Kerja yang di dalamnya mengatur mengenai ergonomi. Potensi bahaya faktor ergonomi meliputi cara kerja, posisi kerja, dan posisi tubuh yang tidak sesuai saat melakukan pekerjaan, desain alat kerja dan tempat kerja yang tidak sesuai dengan antropometri tenaga kerja dan pengangkatan beban yang melebihi kepasitas kerja," kata Tarwaka, dalam Safety Sharing Session pada Rabu (21 September 2022) lalu.

Webinar S3 pada malam itu dihadiri pula Direktur APKPI Alwahono, Operation Manager PT Prodia OHI Iwan Sugiarta. S3 yang dimoderatori Cep Ahmad Muladi itu mengangkat tema 'Ergonomi Terapan Pentingnya Desain Stasiun Kerja dan Menjaga Postur Tubuh Saat Bekerja'.


Manajemen mesti mendesain tempat kerja, kata Tarwaka, agar memenuhi prinsip kerja penerapan ergonomi. Hal itu mencakup, menjaga postur tubuh netral atau alamiah, menggunakan peralatan yang ergonomis, mengatur waktu kerja istirahat yang tepat sesuai beban kerja dan bekerja pada zona jangkauan yang aman, mengurangi atau mengendalikan frekuensi, durasi dan keparahan pemaparan dan mengerjakan objek tetap power zone.

"Ketika pekerja di depan laptop atau layar komputer, antara tinggi mata dengan layar sejajar dan leher tidak boleh mendongak. Meja di bawah atau setinggi siku. Semua kaki, lutut dan paha masuk ke dalam meja. Ada alas kaki. Jadi masuk kerja sehat, pensiun kerja nanti sehat," ujarnya menjelaskan posisi ergonomi dalam ruang kerja.

Direktur APKPI Alwahono mengatakan bahwa tujuan ergonomi agar pekerjaan efektif dan efisien untuk mengurangi kelelahan kerja, stres dan meningkatkan kenyamanan kerja karyawan.

"Di dalam sektor tambang mineral dan batubara terdapat pengelolaan Keselamatan Pertambangan dan Keselamatan Operasional yang di dalamnya ada pengelolaan ergonomi. Kepdirjen Mineral dan Batubara 185/2018 halaman 152 mengatur tentang ergonomi d sektor pertambangan harus diterapkan (pelaku usaha pertambangan)," kata Alwahono.

Operation Manager PT Prodia OHI Iwan Sugiarta mengutarakan ketepatan prinsip ergonomi dapat dilihat salah satunya ketika suatu perusahaan Indonesia mengimpor alat kerja yang standar penggunaan untuk ukuran tubuh warga Eropa.

"Orang eropa tubuhnya lebih besar dibandingkan orang Indonesia otomatis pekerja Indonesia sulit menggunakan alat tersebut. Misalnya, mengimpor kendaraan berat yang jarak menginjak pedal rem dan gas terlalu jauh dan sulit dijangkau pekerja Indonesia yang memiliki ukuran tubuh kecil," ucap Iwan yang merupakan lulusan dokter dari Universitas Trisakti Jakarta ini.

Iwan menjelaskan ada empat faktor ergonomi yaitu faktor antropemetri terkait tinggi rendah tubuh manusia. Faktor kedua, proses kerja yang menuntut pekerja harus tahu cara mengangkat dan memindahkan barang yang berat. Faktor ketiga, kemampuan fisik pekerja memiliki kebugaran jantung dan paru-paru yang baik atau tidak.

"Faktor terakhir adalah faktor kesehatan dari pantauan hasil medical check up. Biasanya pekerja angkat beban berlebihan timbul risiko penyakit masalah ergonomi seperti cedera otot, sakit pinggang, cidera tulang atau sendi, biasanya disebut kejepit," ungkapnya.

Oleh karena itu, kata Iwan, pencegahan yang sederhana masalah ergonomi dengan berjalan sejenak istirahat bekerja, berjalan menuju ke toilet, peregangan, rancang bangun dan cara kerja yang ergonomis.  

Post a Comment

Post a Comment