Ahli Gizi Dorong Manajemen Pertambangan Perhatikan Gizi Kerja Karyawannya

Gizi, Produktivitas, Kerja, Karyawan, ABadi Raya Commerce, Harmoni Panca Utama, Prodia WIdyahusada, Obesitas,

Dari atas pembicara Alwahono, Kendri Prabowo, Diana Rizqi, Eva Kurniawati, Dini Sabila (moderator) dan Maharani Mega Sari (MC). Foto: APKPI

MINESAFETY -- Ahli gizi dan dokter kesehatan kerja mendorong perusahaan pertambangan memenuhi kecukupan gizi pekerjanya selain meningkatkan derajat kesehatan juga membuat produktivitas kerja karyawan terjaga.

Diana Rizqi, Nutrition Specialist PT Abadi Raya Commerce mengutarakan asupan gizi aspek penting para pekerja agar derajat kesehatan karyawan bagus maka ada peningkatan produktivitas kerja.

"Begitu sebaliknya derajat kesehatan menurun, produktivitas kerja menurun. Namun, kalau asupan makanan sudah cukup, perlu diperhatikan aspek keamanan makanannya, seperti tidak keracunan agar tidak menimbulkan potensi kecelakaan insiden kerja," kata Diana Rizqi dalam webinar APKPI Safety Sharing Session (S3) Rabu (24 Agustus 2022) malam.

Dalam webinar bertemakan Nutrition & Human Productivity in Mining itu, Diana Rizqi mengatakan kewajiban pemenuhan gizi kerja yang baik karyawan tambang sudah diamanahkan dalam Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018.

Keputusan Menteri ESDM itu menyebutkan pengelolaan makanan, minuman dan gizi pekerja tambang dilakukan dengan memastikan bahwa penyediaan makanan dan minuman telah memenuhi syarat keamanan, kecukupan dan higienitas sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta mempertimbangkan aspek keseimbangan gizi pekerja.

Pemenuhan asupan makanan, menurutnya, tidak hanya ketika untuk menopang tubuh saat bekerja tetapi ketika manusia istirahat juga membutuhkan energi maka manusia sangat membutuhkan asupan makanan yang baik.

"Contoh penyediaan menu makanan tempat kami [Abadi Raya Commerce) seperti breakfast/sarapan (1000 kkal), lunch/makan siang (1000 kkal), dan dinner/makan malam (1000 kkal) total asupan energi satu hari (3000 kkal). Selain pemenuhan gizi itu perlu diperhatikan keamanan makanan, apa kita sajikan bersih. Kalau tidak aman mengganggu kesehatan masyarakat," kata Diana Rizqi.

Sementara itu, Direktur APKPI Alwahono mengatakan gizi kerja menjadi topik diskusi yang jarang dikupas padahal peranannya sangat penting dalam keselamatan pertambangan.

"Gizi memberikan peranan produktivitas seseorang, kelebihan gizi masalahnya pada obesitas. Maka dari itu nutrisi, harus seimbang, agar segar terus. Kita di sini menjadi orang yang peduli dalam keseimbangan gizi," kata Alwahono.
Foto: Pixabay. 

Di sisi lain, Company Doctor PT Harmoni Panca Utama (HPU), dokter Kendro Prabowo menyampaikan masalah gizi karyawan muncul seperti karyawan malas bergerak menyebabkan kelebihan nutrisi atau penyakit degeneratif atau kondisi kesehatan saat tubuh penderitanya mengalami penurunan fungsi jaringan dan organ.

"Di HPU agar karyawan menerima gizi yang baik, manajemen memberikan komitmen kepada karyawan seperti standar higienis sanitasi, ada itikad baik dari manajemen agar program gizi pekerja bagus hingga monitoring kesesuaian menu. Kami juga inspeksi kantin, ruang makan atau kantin harus bersih," kata Kendro.

Konsultan Specialis PT Prodia Widyahusada dan dokter Pelni, dokter Eva Kurniawati menyoroti mengenai obesitas di Indonesia termasuk dialami para pekerja merupakan salah satu penyumbang angka penyakit akibat kerja tertinggi di Indonesia sehingga harus diatasi sebaik-baiknya.

Dari data Penyakit Akibat Kerja dari Kementerian Kesehatan pada 2020, ada penelitian yang menunjukan obesitas dialami karyawan di Indonesia urutan keempat sebesar 3,70%. Urutan pertama kolesterol 18,52%, hipertensi 18,52%, serangan jantung sebesar 7,41% dan terakhir obesitas.

"Tingkat obesitas di Indonesia meningkat, kalau mengalami obesitas dalam waktu lama menambah cost (biaya pengobatan) yang tinggi. Pekerja tambang rentan mengalami obesitas sehingga membutuhkan promosi edukasi yang efektif kepada perusahaan dan karyawan," kata dokter Eva ini.

Edukasi karyawan mengatasi obesitas, menurutnya, sangat memegang peranan penting. Perusahaan mesti memberikan edukasi kepada karyawan agar menjaga makanan dengan baik, diet seimbang, pengaturan asupan makan jika karyawan bekerja pada jam malam atau pagi.

"Setengah dari piring kita mestinya ada serat sayur karena serat memberikan rasa kenyang lebih lama. Jika sulit mendapatkan sayur, ganti dengan agar-agar, atau makanan gel dalam bentuk bubuk instan. Sementara durian, mangga, pisang harus dibatasi bagi penderita diabetes," ucapnya.

Salah satu cara pula, kata Eva, karyawan yang obesitas membentuk komunitas agar memiliki kesempatan mengatasi obesitas yang terstruktur dengan baik. "Bikin program bersama dan nanti hasilnya baik untuk komunitas tersebut," ucapnya.

© hak terpelihara
supported by borneoglobe.org