Pertamina EP Cepu Prioritas Nomor Satu Safety Proyek Jambaran Tiung Biru

Kementerian ESDM, Tim Kantor Staf Kepresidenan (KSP) dan dari PT Pertamina EP Cepu di proyek Jambaran Tiung Biru. Foto: Kementerian ESDM


Penulis: Yanuarius Viodeogo Seno

MINESAFETY -- Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Kementerian ESDM) Tutuka Ariadji berharap pelaksanaan gas in pada proyek Jambaran Tiung Biru di Ngasem (Bojonegoro) dengan memprioritaskan nomor satu safety atau keselamatan bagi para pekerjanya. Tahap itu sangat penting dan krusial untuk membuktikan equipment dan instalasi terintegrasi dengan baik.

Proyek JBT itu nanti menjadi sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan industri dan kelistrikan di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang mampu memproduksi raw gas sebesar 315 mmscfd dan kondesat 2700 bcpd.

"Safety itu harus dipastikan dan di industri migas, safety nomor satu. Setelah gas in berjalan lancar, tahap berikutnya gas on stream (Agustus) tetapi dipastikan peralatan berfungsi baik, baru gas on," kata Tutuka dikutip Minesafety, Jumat (15 Juli 2022).

Hal itu disampaikan Tutuka saat mengunjungi lokasi proyek, pada Rabu (13 Juli 2022) lalu bersama Deputi 1 Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Febry Calvin Tetelepta, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Mustafid Gunawan dan Direktur Pembinaan Program Migas Dwi Anggoro Ismukurnianto, Tenaga Ahli KSP Hageng Suryo Nugroho, dan Dirut PT Pertamina EP Cepu Awang Lazuardi.

Gas in adalah tahap awal pembuktian equipment dan instalasi terintegrasi dengan baik serta pelaksanaannya yang tetap memperhatikan keselamatan migas. Setelah nanti beroperasi, ada potensi tambahan produksi hingga 20 mmscfd sehingga terdapat peningkatan produksi penjualan sales gas dari 172 mmscfd menjadi 192 mmscfd.

Senada disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Awang Lazuardi yang menyatakan JTB akan selalu mengedepankan aspek safety kepada tim pada setiap tahap pekerjaan menuju on stream. "Jangan mengorbankan safety untuk sekadar mengejar produksi. Tapi kami tetap mencoba best effort untuk perbaikan-perbaikan ke depannya," kata Awang.

Keselamatan memang menjadi perhatian PEPC bahkan hingga Mei 2022 lalu, status kinerja pada proyek JTB itu mencapai 54 juta jam kerja aman. Hal itu terlepas dari motivasi PEPC yang pernah meraih penghargaan Keselamatan Migas dari Kementerian ESDM periode 2020-2021 lalu.   

Sebelumnya, Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian ESDM, Mirza Mahendra mengingatkan juga pentingnya keselamatan dalam kegiatan usaha migas yang harus menjadi budaya bagi setiap perusahaan migas beroperasi di tanah air ini.

"Budaya keselamatan itu paling gampang digambarkan seperti anekdot tiada lebaran tanpa ketupat lebaran. Sama seperti operasi migas tanpa safety, seperti tidak beroperasi. Keselamatan harus terus diingatkan ke pelbagai pihak dengan berbagai cara," kata Mirza.

Post a Comment

Post a Comment