Kala Mahasiswa Antropologi Untan Bikin Peta Digital Dari Praktisi Tambang

Quantum GIS, GPS, Antropologi Sosial, Untan, Pontianak, Kalbar Mineral Center, Peta Digital, Perhapi

Mahasiswa dan Donatius BSE Praptantya selaku pengajar Antropologi Sosial, Untan Pontianak sedang mengamati materi pelatihan Quantum GIS dari Kalbar Mineral Center (KMC). Foto: Prodi Antropologi Sosial Untan.
Penulis: Yanuarius Viodeogo Seno

MINESAFETY -- Mahasiswa Antropologi Sosial, Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak begitu serius mendalami pembelajaran Sistem Informasi Geospasial (SIG) sebagai rangkaian pembuatan peta digital. Pelatihan itu untuk menambah softskill mendesain peta digital yang nanti berguna saat menulis publikasi ilmiahnya agar menarik bagi pembaca.

Cristo Rodento Manalu, mahasiswa semester 6 Program Studi Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Untan Pontianak tampak sedang mengulik software Quantum GIS (QGIS)-aplikasi peta digital, di ruangan pascasarjana kampus FISIP Untan. Dari layar laptop Cristo dan 30 teman-teman satu angkatannya itu muncul peta digital sederhana wilayah Kota Pontianak. 

"Kami mengolahnya nanti menjadi peta digital, ini seperti photoshop. Ada layer, kemudian sudah ada data yang nanti kami input seperti misalnya, mana batas wilayah utara-selatan, timur-barat. Hasil akhirnya adalah sebuah peta digital. Ini menarik karena sangat berguna untuk kami saat proses penelitian skripsi ke depan," kata Cristo kepada Minesafety.

Cristo beruntung karena kini turut terlibat mengikuti pelatihan pembuatan peta digital yang berlangsung selama 3 hari pada 14 Juni-16 Juni 2022 lalu itu. Instruktur mereka adalah para praktisi pertambangan dari Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Kalimantan Barat yang tergabung di komunitas Kalbar Mineral Center.

Selain membuat peta digital, mereka memperoleh pelatihan penggunaan WebGIS Khatulistiwa One Map (KOM), Pelatihan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Pelatihan Alat Navigasi (GPS), proses georefencing, proses digitasi, proses simbologi, proses labelling dan proses layouting.

Apalagi Cristo yang notabene mahasiswa dari disiplin ilmu sosial, tidak seperti dari prodi teknik dan kehutanan yang sudah familiar menggunakan GPS dan SIG dalam setiap mata kuliahnya. Tentu ketika mendalami pembuatan peta digital menjadi sangat penting pada masa mendatang bagi akademisi sosial seperti Cristo dan lainya untuk memetakan batas wilayah, sebaran penduduk, lokasi peninggalan fisik masyarakat, identifikasi bahasa, suku dan lainnya. 

Contoh peta digital sederhana wilayah Kota Pontianak yang didesain oleh peserta pelatihan. Foto: Prodi Antropologi Sosial Untan
Begitu pula dengan Cornelius Kiki Hartanto, rekan Cristo satu angkatan Prodi Antropologi Sosial yang baru kali ini bersentuhan langsung mempelajari titik koordinat, dan informasi spasial hingga menjadi peta digital utuh. Remaja dari Kabupaten Sekadau ini mengaku pelatihan tersebut rumit tetapi bisa dipahami setelah mengenal dan mengolah sendiri data-datanya secara langsung.

Dia melihat output berupa peta digital dari Quantum GIS sangat akurat, tidak meleset dan paling penting adalah detil saat menampilkan informasi-informasi penting baik data sekunder atau primer. Kiki menilai tidak ragu nanti menggunakan Quantum GIS untuk menghasilkan peta digital ketimbang peta manual. "Manfaatnya banyak, nanti saat menulis tugas terkait etnografi jadi skripsi tidak hanya sebatas menulis deskripsi penelitian. Belajar SIG membuat kami, secara detil ternyata daerah ini ada berapa kepala keluarga, dan lain-lain. Data-data pendukung nanti tersaji tuh dalam bentuk gambar digital," kata Kiki.

PERAN BALITBANG KALBAR
Kesempatan para mahasiswa Antropologi FISIP Untan belajar keterampilan Quantum GIS bermula saat prodi itu menggelar lokakarya revisi kurikulum jauh hari sebelumnya. Prodi mengundang sejumlah stakeholder dari praktisi pendidikan, pemerintah provinsi, pemerintah kota, NGO dan komunitas-komunitas berbasis sosial.

Salah satu dari perwakilan Pemerintah Provinsi Kalbar mengundang Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kalbar. Saat lokakarya yang digelar, hadir Kepala Bidang (Kabid) Inovasi dan Teknologi Balitbang Provinsi Kalbar, Sigit Nugroho. 

Dosen Prodi Antropologi FISIP Untan Donatius BSE Praptantya mengutarakan civitas akademis Antropologi Sosial punya keunggulan penelitian pada aspek kemasyarakatan dengan teknik etnografinya. Dia ingin sekali ada mahasiswanya yang kelak bisa menampilkan peta digital pada karya skripsinya dan hasil penelitian lainnya.

"Saat lokakarya itu, Pak Kabid Sigit melihat peta buatan tangan dari mahasiswa antropologi. Dia tanya itu gambar siapa? Lalu pak Sigit menawarkan untuk membuat peta dengan SIG, maka dari itu muncul pelatihan ini," kata dosen yang akrab dipanggil pak Don ini.

Pak Don menyambut baik inisiatif tersebut dan berlanjut menggelar pelatihan Quantum GIS difasilitasi oleh Balitbang Provinsi Kalbar di pascasarjana FISIP Untan. Antusias peserta pun tinggi dari awalnya yang hanya dibuka pendaftaran 15-20 orang mahasiswa Antropologi Sosial ternyata membludak hingga 30 mahasiswa yang ingin berpartisipasi dalam pelatihan itu.

Pengenalan Quantum GIS dan fitur-gitur lain sangat bagus untuk mahasiswa disiplin ilmu antropologi karena mereka dituntut menguasai teknik etnografi yang mahir. Sehingga, menurut Pak Don, dengan keterampilan membuat peta digital maka kolaborasi hasil publikasi ilmiah yang etnografi dan peta digital menjadi ideal dan padu sempurna.

"Tuntutan etnografi itu harus berteman dengan keterampilan kartografi atau membuat peta. Anda bisa menutup ketidakmampuan menyajikan deskripsi dari etnografi dengan peta. Misalnya, dari peta digital bisa menemukan lokasi sesungguhnya suku ini, atau menemukan pohon  yang dimaksud warga. Biasanya warga hanya menunjuk itu tuh pohonnya, tapi setelah kita cari tidak ada," tuturnya. 

Sementara itu, Sigit Nugroho sebagai pencetus ide pelatihan mengajak para akademisi sosial memanfaatkan sebesar-besarnya software Quantum GIS hingga alat navigasi GPS mempelajari keterampilan geospasial agar generasi mendatang punya bekal keterampilan tersebut saat menjadi peneliti atau bekerja di bidang kehutanan, pertambangan dan lainnya. 

Sejak berkantor di Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalbar, Sigit sudah mengenalkan software itu untuk praktisi pertambangan, anak-anak muda yang berminat berkutat dengan peta digital dan komunitas-komunitas lain.

Kabid Inovasi dan Teknologi Balitbang Kalbar, Sigit Nugroho. Foto: Minesafety
Pria lulusan Teknik Geologi dari Universitas Veteran Nasional (UPN) Yogyakarta ini, sangat senang masyarakat mau belajar keterampilan membuat peta digital. Begitu pula ketika dipercaya menjabat sebagai Ketua Perhapi Kalbar, Sigit mengutarakan pembuatan peta digital akan familiar digunakan untuk masyarakat luas.  

Dia mengajak anggota atau praktisi pertambangan yang tergabung dalam Perhapi mau mengajarkan pembuatan peta digital kepada mahasiswa-mahasiswa tidak hanya dari teknik saja. Misalnya, mahasiswa jurusan ilmu sosial, jurusan ekonomi, mahasiswa kejuruan pariwisata hingga yang berkuliah di kesehatan.

"Harapan saya, pelatihan ini berguna untuk lulusan antropologi ada skill baru. Geospasial sesungguhnya tidak harus orang teknik, orang ekonomi juga bisa ya tentu harus dilatih," tutur Sigit.

KALBAR MINERAL CENTER
Selang 3 hari berteori di kampus, para peserta pelatihan terjun langsung ke lapangan mempraktikkan teorinya di Kalbar Mineral Centers (KMC) di Jalan Soeharto KM22, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.  

Mereka mulai mengimplementasikan pelatihan penggunaan peralatan GPS, dan mengingput informasi ke SIG di sekitar KMC. Mulai dari menggali informasi untuk membuat peta digital sederhana sampai mencari batas wilayah dan mendata jumlah penduduk. Proses teori yang mereka peroleh sebelumnya di kampus kemudian diterapkan saat berada di lapangan.    

Instruktur lapangan dari KMC yang melatih peserta, Rian Wibowo berharap mahasiswa Antropologi Sosial Untan bisa membuat peta digital dengan kemampuan dan pengetahuan yang mereka peroleh. Dari pengamatannya, para mahasiswa itu cepat menerima keterampilan baru memahami navigasi GPS hingga SIG. 

Mahasiswa peserta pelatihan mempraktikan langsung penggunaan navigasi GPS untuk membuat peta digital. Foto: Prodi Antropologi Sosial Untan.

"Mereka cepat menerima pembelajaran misalnya, membaca arah mata angin. Harapan kami dari KMC, mahasiswa ini bisa mengolah data sekunder dari berbagai sumber, menggali informasi di lapangan dan memindahkannya ke Quantum GIS," kata Rian.

Belum lagi para lulusan antropologi dan sosiologi, menurutnya, punya peluang besar bekerja di industri pertambangan. Rian menyebutkan salah satu perusahaan tambang di Kalimantan Timur malah membutuhkan lulusan sosiologi dan antropologi.

Maka dengan demikian, lanjutnya, ketika masih ada kesempatan sebagai mahasiswa maka jangan menghilangkan kesempatan mau mendalami Quantum GIS dan teknik terkaitnya terus menerus. Apalagi software Quantum GIS tersebut open source alias dibuka untuk publik sehingga siapapun bisa mengakses berlatih menginput data, membuat peta digital dan diketahui masyarakat luas.

Editor*
© all rights reserved allsysmedia.com
APKPI