Kisah Nasi Goreng dan Bisikan Kucing


Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

Seorang istri dengan susah payah menyiapkan menu nasi goreng kepada suaminya yang bekerja di lahan tambang. Setelah menu siap, ternyata sang suami tak sempat menyicipinya karena ada panggilan tugas yang mendadak. 

Lumrahnya hati sang istri gondok dan sebel karena jerih payahnya untuk disampaikan kepada sang suami tak bersambut. Namun jika dibarengi sikap ikhlas, semata-mata karena Allah, sikap gondok dan sebel itu tak akan menjadi penyakit di dalam hati. Sebaliknya, lapang dada. Di sini kita dapat menempatkan diri bahwa sikap ikhlas lillahi ta'ala itu teramat sangat penting.

Kisah lain sebagai anekdot. Si Raja Hutan melangsungkan pernikahan. Seperti biasanya, singa selaku Raja telah memerintahkan kepada seluruh penghuni hutan agar tidak ada yang mengganggunya, kecuali seekor kucing. 

Singgasana pernikahan singa diganggu keonaran si kucing yang berbisik-bisik memanggil si Raja Hutan. "Singa, singa, sini..." panggilnya. 

Si Raja Hutan tentu saja mendelik dan berkata, "Kan sudah saya perintahkan agar tidak ada yang mengganggu saya!"

Si kucing berkata lirih.  "Jangan marah dulu, dengar informasi sangat penting yang hendak saya katakan..."

Si Raja Hutan pun balas berbisik, "Informasi penting apa Cing?"

"Dulu sebelum menikah saya juga adalah singa si Raja Hutan. Namun setelah menikah, saya menjadi kucing!"

***


Segala puji bagi Allah yang telah mengatur segala sesuatu bisa terjadi. Kita hidup ini tidak hanya ingin selamat, tetapi juga ingin bahagia dan mulia. Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI) tentunya tidak hanya ingin selamat, tetapi juga ingin bahagia dan mulia. 

Masalah yang membuat kita menderita bukannya datang dari luar, tetapi dari dalam, yakni dari hati. Banyaknya penderitaan sekarang bukan hanya karena Covid-19, tetapi sebelum Covid datang pun sudah sakit, karena tidak bisa menata hati. 

Orang yang paling bahagia adalah mereka yang paling jago menguasai hatinya. Paling pandai menata qalbunya. Paling pintar memanajemen hatinya. 

Setiap insan yang beriman, ketika dia diberikan nikmat maka dia bersyukur. Ketika diberikan ujian dan cobaan maka dia bersabar. 

Ada empat kuncinya jika kita semua ingin hidup bahagia. Pertama, kalau kita berbuat baik, tidak identik dengan selamat dan mulia, kecuali kuncinya ikhlas.  Ikhlas ini lillahi ta'ala. Segala aktivitas adalah untuk mencari ridha Allah Swt, bukan untuk pujian dan sanjungan sesama makhluk. 

Kedua, karena kita bukan malaikat, kita bukan tidak pernah salah dan tidak berdosa. Kuncinya, segera taubat. Tidak sekedar taubat, tapi bersegera. Ayatnya, "Wasari'u!" Bersegeralah...Kalau kita menderita bukan karena apa-apa, tapi karena banyak salah, dan tidak segera bertaubat. 

Ketiga, kita setiap saat dianugerahi banyak sekali nikmat dari Allah. Mata bisa kedip. Jantung bisa berdegup. Hidung bisa bernafas. Semua anggota tubuh tidak berarti jika kurang syukur. Jadi, kalau banyak mengeluh pasti tidak fokus bersyukur. Dalam situasi sesulit apapun. 

Keempat, kita pasti akan ditimpa sedikit musibah. Ujian sedikit ini bisa membawa celaka jika tidak sabar, namun justru bisa membawa selamat jika kita bawa kunci sabar. 

Hidup ini penuh ujian karena bagian dari karunia. Bagian dari kasih sayang  Allah agar kita naik derajatnya. Ujian Allah itu sudah terukur. Maka jalani saja hidup ini. Mengalir terus. Maju terus. Jangan banyak mengomel. Ajeg. Semua ada waktunya. 

Musibah itu untuk menggugurkan dosa kita. Untuk menaikkan derajat kita. Covid-19 akan berakhir. Malam akan berganti menjadi siang.  Sabar ini mengendalikan diri dari apa-apa yang Allah tidak suka. Segala sesuatu datang dan pulang dari Allah. 

Bahagia tidak dinanti-nanti. Sekarang ini juga. Bahagia ini milik Allah. Allah mencintai hamba-hamba yang bertaubat, bersabar, bersyukur. Memang mungkin masalah belum selesai, tapi hati yang banyak bertaubat, bersyukur, bersabar, tidak tertekan. Ada orang yang dipenjara tapi tidak menderita. Ada yang bebas, namun tertekan. 

Bertekadlah membersihkan jiwa. Mujahadah. Latih mengamalkan ilmu. Latih untuk memaafkan. Latih untuk menahan pandangan. Minta istiqomah. Cari kawan-kawan yang lingkungannya mengajak dekat kepada Allah.

Kenapa kita kurang bahagia padahal punya tambang besar? Tambang itu fisik. Tidak ada jaminan mulia dan bahagia, karena domain kebahagiaan bukannya di fisik tetapi di hati. Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta bendamu, tapi iman dan amalmu. 

Mau berbuat baik sederhanakan, lakukan-lupakan. Allah Maha Mencatat dan Maha Mengetahui. Tidak usah diingat-ingat. Tak usah disebut-sebut. Yang memberikan rizki Allah. Mengapa kita sentil? Jangan sibuk ingin dipuji. Pujian itu hanya sekedar getaran udara saja. Hidup bahagia itu lakukan yang terbaik lillahi ta'ala. 

Simulasi: ada sebuah meja, di bawah meja ada makanan enak dan ular. Mana informasi yang penting? Bukannya makanan yang enak yang penting, tetapi ular. Ternyata informasi adanya bahaya adalah paling penting untuk diketahui. Begitulah kita perlu fokus melihat dosa dan kesalahan daripada kebaikan dan pujian.

Orang yang tidak banyak bertobat sama dengan membawa mobil kacanya kotor dan terus bertambah kotor. Barangsiapa yang banyak bertaubat, istighfar, akan dibersihkan hatinya, akan ada selalu jalan keluar dari masalah-masalahnya. Seperti mobil kacanya selalu dibersihkan. Bakal banyak rizki yang datang tak diduga-duga. Berkah dari bertaubat.  (disarikan dari tausiah halal bi halal APKPI 2021)


© all rights reserved allsysmedia.com
APKPI