Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Menyatukan Persepsi Pengelolaan Keselamatan Pertambangan di Indonesia

 

Alwahono, Managing Director Allsys Solutions (dok. Allsysmedia)

Oleh:  Alwahono

Meski regulasi mengenai Keselamatan Pertambangan (KP) sudah ada, namun dalam realitas di lapangan pemahaman dan persepsi tentang penerapan KP, terutama di industri pertambangan di Indonesia masih beragam.  Untuk itulah dalam edisi perdana majalah Mine Safety ini kami secara khusus mengangkat kembali soal KP ini, dan bagaimana mengimplementasikannya di perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan. 

Pengelolaan Keselamatan dalam sektor pertambagan dikenal dengan istilah Keselamatan Pertambangan yang dalam pengelolaannya terdiri dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pertambangan dan Keselamatan Operasi (KO) Pertambangan. 

Pengelolaan K3 Pertambangan dilaksanakan dengan tujuan agar para pekerja tambang bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Sedangkan KO bertujuan untuk terciptanya kegiatan pertambangan yang aman, efisien dan produktif.

Merujuk pada regulasi di Indonesia, organisasi KP terdiri dari Kepala Teknik Tambang (KTT), Bagian Keselamatan Pertambangan, Pengawas Operasional dan Pengawas Teknis, serta Penanggung Jawab Operasional (PJO) untuk perusahaan Jasa Pertambangan.

Masing-masing dari fungsi tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap keselamatan pertambangan sebagaimana yang diatur dalam Kepmen ESDM No. 1827 tahun 2018 pada lampiran 1. Tugas dan tanggung jawab bagian K3 dan bagian KO secara rinci diatur dengan Keputusan Dirjen Minerba No. 185 tahun 2019, khususnya halaman 352-353.

Keselamatan pertambangan adalah menjadi tanggung jawab KTT, namun dalam pelaksanaannya KTT dibantu oleh bagian KP, Pengawas Operasional dan Pengawas Teknis. Dengan demikian kedudukan bagian KP adalah membantu KTT yang secara keseluruhan bertanggung jawab memastikan terlaksananya KP tersebut. Namun yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan K3 di masing-masing bagian adalah Pengawas Operasional, sedangkan yang bertanggungjawab terhadap KO di masing-masing bagian adalah Pengawas Teknis. 

Temuan saya sebagai Direktur Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI), masih saja ada perusahaan yang membentuk lagi bagian K3 di departemen dan bagian KO di masing-masing departemen. Padahal tugas dan tanggung mereka sudah ada pada pengawas operasional dan pengawas teknis.  

Untuk membantu kita memahami organisasi dan tanggungjawab KP, mari kita lihat bagan berikut ini:

Dari struktur tersebut di atas maka jelaslah bahwa tanggung jawab K3 dan KO pada masing-masing fungsi telah diatur sedemikian rupa: Pengawas Operasional untuk K3 Pertambangan dan Pengawas Teknis untuk KO. Agar memiliki legitimasi yang kuat maka Pengawas Operasional dan Pengawas Teknis harus memiliki kompetensi yang sesuai.

Lalu bagaimana dengan organisasi KP-nya? Organisasi KP adalah bagian dari struktur organisasi perusahaan. Tugasnya adalah membantu KTT untuk penyelenggaraan KP baik bidang K3 maupun KO di organisasi perusahaan. Oleh sebab itu organisasi KP tentu harus dapat mencakup tugas tanggung jawabnya yang terkait K3 dan KO sebab kedua adalah bagian dari KP secara keseluruhan.

Berikut ini adalah contoh struktur organisasi KP yang ideal:

Tentu saja besarnya organisasi KP dan jumlah personil mesti disesuaikan dengan kebutuhan dan besar kecilnya organisasi perusahaan. Dari bagan struktur organisasi KP di atas atas maka sangat jelas bahwa tugas dan tanggungjawab bagian KP tidak hanya soal K3 saja melainkan juga mencakup tugas dan tanggungjawab KO yang secara struktur merupakan organ di bawahnya.

Kepada seluruh pembaca Mine Safety yang budiman, kami berharap tulisan sederhana ini dapat membantu kita memiliki persepsi yang sama terkait penerapan KP di Indonesia.

Salam Safety Resilient.

Berdamai Dengan Covid-19 di Arena Tambang


Penulis: Irfan Fradilla, S.Tr.Kes

Kehadiran Covid-19 yang menginfeksi dan menyebabkan kematian banyak orang membuat sejumlah negara membatasi jarak atau lockdown termasuk pemerintah Indonesia dibawah komando Presiden Joko Widodo menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah zona merah. 

PSBB membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat luas, baik dampak yang bersifat materi maupun non materi. Kegiatan bersosial dibatasi, kendaraan umum dibatasi, sekolah-sekolah ditutup dan diganti pembelajaran daring, pusat perbelanjaan dilarang buka, pasar-pasar tidak beroperasi, banyak perusahaan yang meliburkan karyawannya. 

Tetapi ada juga sebagian perusahaan yang menerapkan kerja di rumah atau Work From Home (WFH), agar perusahaan tetap berjalan atau beroperasi. Pun seperti perusahaan di sektor pertambangan dimana tempat saya bekerja, operasional harus tetap berjalan walaupun serangan virus Covid-19 tak kunjung reda. 

Peraturan internal perusahaan berkaitan dengan penanganan dan pencegahan Covid-19 telah dibentuk walaupun mengalami perubahan beberapa kali karena menyesuaikan kondisi dan situasi. 

Segala bentuk protokol kesehatan telah disampaikan dan telah dilaksanakan karyawan seperti: 

  • Selalu menggunakan masker, baik saat berada di area kerja maupun di luar area kerja.
  • Rajin mencuci tangan baik sesudah maupun sebelum makan ataupun setelah memegang benda apapun.
  • Serta menghindari berkerumun di saat jam istirahat kerja.
Namun sepatuh apapun karyawan menerapkan protokol kesehatan tersebut, yang namanya virus tetaplah virus. Beberapa karyawan terkonfirmasi positif Covid-19, operator berkurang unit tidak ada yang mengoperasikan.

Pengawas harus memutar otak bagaimana operasional harus tetap jalan dengan keterbatasan. Segala daya upaya telah diusahakan oleh perusahaan, agar yang sehat tetap sehat dan yang sakit kembali dapat beraktifitas, seperti;

  • Pemberian vitamin secara rutin.
  • Pemeriksaan kesehatan secara berkala.
  • Pemberian cairan desinfektan disetiap unit hauler, loader maupun sarana lainnya.
  • Penambahan sarana penjemputan dan pengantaran agar dapat melaksanakan protokol kesehatan physical distancing.
  • Pemberian fasilitas karantina yang sesuai bagi karyawan yang terkonfirmasi.

Serta usaha lain yang telah semaksimal mungkin diupayakan oleh perusahaan agar mencegah laju penyebaran virus Covid-19 ini. Namun pada akhirnya, Covid-19, kesehatan dan pekerjaan, adalah hal yang sekarang menjadi satu kesatuan yang mungkin sulit dipisahkan untuk saat ini.

Seolah kita dipaksa berdamai dengan Covid-19 dan hidup berdampingan, karena kita tidak mungkin hanya diam di rumah, kita tetap harus beraktivitas, menjalankan roda kehidupan, melakukan pekerjaan, terus belajar, meneruskan cita-cita dan harapan. Sangat beruntung bagi orang-orang yang tidak kehilangan pekerjaan, karena sebagian perusahaan di seluruh dunia merumahkan karyawannya.

Bagi kita semua, harus siap menjalani kondisi seperti ini. Yang masih bekerja harus kembali melakukan pekerjaan, yang kehilangan pekerjaan harus berani mengambil tindakan untuk mencari solusi lain. *

Penulis: berkarir di bidang Health, Safety, and Environment (HSE) PT Harmoni Panca Utama, perusahaan tambang.

*Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari penulis

Bahagia Ketika Melihat Masyarakat Sekitar Tambang Asri dan Sejahtera

Jeffrey Mulyono Negoro

Menarik ketika duduk bersama pembicara cum praktisi tambang yang satu ini. Lahir di Bandung, 17 November 1951 dengan menyelesaikan sarjana Teknik Pertambangan di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1980. Kini malang melintang sebagai speaker keliling Indonesia termasuk ke berbagai belahan negara di dunia.

Dominasi pembicaraannya adalah manajemen, clean coal technology, prime energy development, lingkungan dan CSR (corporate social responsibility). Negara-negara maju pun tertarik untuk mengundangnya sebagai pembicara antara lain Jerman, Jepang, China, India hingga AS. Jangan tanya untuk seluruh wilayah Indonesia dan negeri-negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Jeffrey Mulyono Negoro sudah digolongkan sebagai Suhu atau Sifu.

Tak heran jika dalam tim kurator APKPI nama Jeffrey Mulyono Negoro ditempatkan sebagai No 1 Anak Tambang Indonesia (ATI) dimana kepada sosoknya banyak ilmuwan dan praktisi tambang Nusantara berguru. Di dalam Buku 100 ATI kisah naratif dari figur yang selalu bahagia ketika melihat masyarakat di sekitar tambang tetap dapat hidup asri dan sejahtera tanpa tertinggal jauh di belakang industri tambang kala menerbangkan bola dunia ke peradaban yang sangat cepat dan canggih dapat dinikmati pada halaman-halaman pembuka.

Perintis dan pendiri Pama Persada yang kenyang makan asam garam kehidupan mekanik di United Tractors setamat studinya di ITB tahun 1980 kini menikmati keberadaan maupun eksistensinya sebagai guru yang berkeliling berbagai industri tambang lokal, nasional dan internasional selain bergerak sebagai konsultan profesional.

Dalam berbagai kesempatan Sang Guru selalu mengingatkan, bahwa industri tambang adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah meletakkan proses jutaan, bahkan milyaran tahun sehingga tanah, air dan bebatuan mineral bisa diolah sedemikian rupa sehingga melentikkan teknologi serba canggih ke ranah padat teknologi. Oleh karena semua hamparan tanah, air dan bebatuan mineral itu adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa, maka diperlukan sikap dan mental yang adil terhadap alam, termasuk sesama umat manusia yang ada di sekitar lokasi tambang.

"Hendaknya mereka tetap dapat hidup berdampingan dengan industri tambang yang maju, dan mereka dapat meningkat derajat pendidikan, kesehatan, bahkan pelaksanaan amal ibadah sesuai dengan agama maupun kepercayaan yang mereka anut. Jangan sampai sumber daya alam mereka dikeruk sedangkan mereka tetap terbelakang serta jumud dalam kemiskinan."

Dengan demikian perlu ada sentuhan yang sungguh-sungguh terhadap dana sosial tanggung jawab perusahaan di mana reklamasi membuat lokasi industri tetap asri, pada sisi lainnya derajat dan harkat kemanusiaan mereka seluruhnya tetap dapat tumbuh seiring secara bersama-sama. Tidak ada yang ditinggalkan.

Baca kisah Jeffrey Mulyono Negoro melakukan pemberdayaan masyarakat desa di sekitar tambang selengkapnya di Buku 100 ATI di mana Suhu alias Sifu ini dianugerahi banyak penghargaan dari masyarakat lokal, termasuk almamaternya Ganesha, ITB. *

Kisah Nasi Goreng dan Bisikan Kucing


Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

Seorang istri dengan susah payah menyiapkan menu nasi goreng kepada suaminya yang bekerja di lahan tambang. Setelah menu siap, ternyata sang suami tak sempat menyicipinya karena ada panggilan tugas yang mendadak. 

Lumrahnya hati sang istri gondok dan sebel karena jerih payahnya untuk disampaikan kepada sang suami tak bersambut. Namun jika dibarengi sikap ikhlas, semata-mata karena Allah, sikap gondok dan sebel itu tak akan menjadi penyakit di dalam hati. Sebaliknya, lapang dada. Di sini kita dapat menempatkan diri bahwa sikap ikhlas lillahi ta'ala itu teramat sangat penting.

Kisah lain sebagai anekdot. Si Raja Hutan melangsungkan pernikahan. Seperti biasanya, singa selaku Raja telah memerintahkan kepada seluruh penghuni hutan agar tidak ada yang mengganggunya, kecuali seekor kucing. 

Singgasana pernikahan singa diganggu keonaran si kucing yang berbisik-bisik memanggil si Raja Hutan. "Singa, singa, sini..." panggilnya. 

Si Raja Hutan tentu saja mendelik dan berkata, "Kan sudah saya perintahkan agar tidak ada yang mengganggu saya!"

Si kucing berkata lirih.  "Jangan marah dulu, dengar informasi sangat penting yang hendak saya katakan..."

Si Raja Hutan pun balas berbisik, "Informasi penting apa Cing?"

"Dulu sebelum menikah saya juga adalah singa si Raja Hutan. Namun setelah menikah, saya menjadi kucing!"

***


Segala puji bagi Allah yang telah mengatur segala sesuatu bisa terjadi. Kita hidup ini tidak hanya ingin selamat, tetapi juga ingin bahagia dan mulia. Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI) tentunya tidak hanya ingin selamat, tetapi juga ingin bahagia dan mulia. 

Masalah yang membuat kita menderita bukannya datang dari luar, tetapi dari dalam, yakni dari hati. Banyaknya penderitaan sekarang bukan hanya karena Covid-19, tetapi sebelum Covid datang pun sudah sakit, karena tidak bisa menata hati. 

Orang yang paling bahagia adalah mereka yang paling jago menguasai hatinya. Paling pandai menata qalbunya. Paling pintar memanajemen hatinya. 

Setiap insan yang beriman, ketika dia diberikan nikmat maka dia bersyukur. Ketika diberikan ujian dan cobaan maka dia bersabar. 

Ada empat kuncinya jika kita semua ingin hidup bahagia. Pertama, kalau kita berbuat baik, tidak identik dengan selamat dan mulia, kecuali kuncinya ikhlas.  Ikhlas ini lillahi ta'ala. Segala aktivitas adalah untuk mencari ridha Allah Swt, bukan untuk pujian dan sanjungan sesama makhluk. 

Kedua, karena kita bukan malaikat, kita bukan tidak pernah salah dan tidak berdosa. Kuncinya, segera taubat. Tidak sekedar taubat, tapi bersegera. Ayatnya, "Wasari'u!" Bersegeralah...Kalau kita menderita bukan karena apa-apa, tapi karena banyak salah, dan tidak segera bertaubat. 

Ketiga, kita setiap saat dianugerahi banyak sekali nikmat dari Allah. Mata bisa kedip. Jantung bisa berdegup. Hidung bisa bernafas. Semua anggota tubuh tidak berarti jika kurang syukur. Jadi, kalau banyak mengeluh pasti tidak fokus bersyukur. Dalam situasi sesulit apapun. 

Keempat, kita pasti akan ditimpa sedikit musibah. Ujian sedikit ini bisa membawa celaka jika tidak sabar, namun justru bisa membawa selamat jika kita bawa kunci sabar. 

Hidup ini penuh ujian karena bagian dari karunia. Bagian dari kasih sayang  Allah agar kita naik derajatnya. Ujian Allah itu sudah terukur. Maka jalani saja hidup ini. Mengalir terus. Maju terus. Jangan banyak mengomel. Ajeg. Semua ada waktunya. 

Musibah itu untuk menggugurkan dosa kita. Untuk menaikkan derajat kita. Covid-19 akan berakhir. Malam akan berganti menjadi siang.  Sabar ini mengendalikan diri dari apa-apa yang Allah tidak suka. Segala sesuatu datang dan pulang dari Allah. 

Bahagia tidak dinanti-nanti. Sekarang ini juga. Bahagia ini milik Allah. Allah mencintai hamba-hamba yang bertaubat, bersabar, bersyukur. Memang mungkin masalah belum selesai, tapi hati yang banyak bertaubat, bersyukur, bersabar, tidak tertekan. Ada orang yang dipenjara tapi tidak menderita. Ada yang bebas, namun tertekan. 

Bertekadlah membersihkan jiwa. Mujahadah. Latih mengamalkan ilmu. Latih untuk memaafkan. Latih untuk menahan pandangan. Minta istiqomah. Cari kawan-kawan yang lingkungannya mengajak dekat kepada Allah.

Kenapa kita kurang bahagia padahal punya tambang besar? Tambang itu fisik. Tidak ada jaminan mulia dan bahagia, karena domain kebahagiaan bukannya di fisik tetapi di hati. Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta bendamu, tapi iman dan amalmu. 

Mau berbuat baik sederhanakan, lakukan-lupakan. Allah Maha Mencatat dan Maha Mengetahui. Tidak usah diingat-ingat. Tak usah disebut-sebut. Yang memberikan rizki Allah. Mengapa kita sentil? Jangan sibuk ingin dipuji. Pujian itu hanya sekedar getaran udara saja. Hidup bahagia itu lakukan yang terbaik lillahi ta'ala. 

Simulasi: ada sebuah meja, di bawah meja ada makanan enak dan ular. Mana informasi yang penting? Bukannya makanan yang enak yang penting, tetapi ular. Ternyata informasi adanya bahaya adalah paling penting untuk diketahui. Begitulah kita perlu fokus melihat dosa dan kesalahan daripada kebaikan dan pujian.

Orang yang tidak banyak bertobat sama dengan membawa mobil kacanya kotor dan terus bertambah kotor. Barangsiapa yang banyak bertaubat, istighfar, akan dibersihkan hatinya, akan ada selalu jalan keluar dari masalah-masalahnya. Seperti mobil kacanya selalu dibersihkan. Bakal banyak rizki yang datang tak diduga-duga. Berkah dari bertaubat.  (disarikan dari tausiah halal bi halal APKPI 2021)


Alwahono: Jadikan Safety Budaya Pekerja Indonesia


BOGOR - Kesadaran terhadap keselamatan atau safety masih perlu ditingkatkan lagi agar menjadi budaya dan nilai bagi para pekerja di Indonesia. 

Demikian topik diskusi Safety Sharing Session (S3) dengan tema Safety Mindset Value yang diselenggarakan oleh Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI) via zoom meeting, Rabu, 22 September 2021 malam. 


Sebagai pembicara Rusdi Husin Kadiv HSE & Risk Management PT Adaro Energy, Neneng Churairoh Kadiv ESH System Specialist PT J Resources dan Feri Indrayana Kepala Teknik Tambang PT Berau Coal. 


Diskusi yang diikuti kurang lebih 230 orang itu dibuka oleh Direktur APKPI Alwahono dan dimoderatori Dewan Pengawas APKPI Eko Gunarto. 


Safety bukan lagi menjadi prioritas. Sebab prioritas bisa berubah. Karena itu safety harus menjadi nilai dalam kehidupan kita. Untuk itu safety sudah harus menjadi budaya pekerja di Indonesia,” kata Alwahono. 


Dia juga berharap diskusi mengenai safety seperti ini dapat dilaksanakan secara kontinyu,  khususnya dalam dunia industri pertambangan dalam rangka menjadikannya sebagai nilai yang melekat dalam budaya kerja di Indonesia.  


Sementara itu Rusdi mengatakan budaya keselamatan bisa terbentuk apabila ada peran dari sosok pemimpin yang mengutamakan safety dalam sistem organisasi. Pemimpin ibarat koki yang memasukan safety sebagai resep mutlak dalam jamuan makanan. Peran safety tidak boleh dikesampingkan karena prinsipnya fundamental mempengaruhi kinerja karyawan. 


Menurutnya, ada cara berpikir kurang tepat digunakan oleh perusahaan dalam mengukur keselamatan kerja. Rusdi mengutarakan disaat ada perusahaan yang menggaungkan nol kecelakaan kerja tetapi ada indikator dalam KPI (Key Performance Indicator) angka kecelakaan. 


Dia memaparkan ada sejumlah perusahaan menentukan maksimal 2 kecelakaan kerja di kpi. Apabila hanya mencentang satu pernah mengalami kecelakaan kerja berarti kinerja keselamatan baik dan karyawan bisa mendapatkan bonus. 


"Saya khawatir di satu sisi kita menggaungkan zero accident tapi ada perusahaan yang menetapkan indikator angka kejadian kecelakaan. Itu kontradiksi, tidak boleh kecelakaan lebih dari 2 angka," ujarnya.



Neneng Churairoh mengatakan keselamatan sudah ada di pola pikir tidak hanya di pekerjaan tetapi keseharian di rumah juga. Budaya keselamatan bukan timbul saat bekerja tetapi dimulai sejak dini karena bermanfaat saat bekerja. 


"Safety itu terbentuk dari kompetensi personal. Secara personal, budaya keselamatan meliputi nilai, perilaku dan ketertarikan. Kompetensi itu bisa dilatih. Harus berulang kali, memang membosankan tetapi akan menempel terus keselamatan di kepala kita," kata Neneng. 


Feri Indrayana mengatakan membangun budaya keselamatan dimulai dari sosok pemimpin. Dia kemudian mengajak karyawannya agar menerapkan budaya keselamatan pula. 


Budaya keselamatan, kata Feri, adalah tentang kepercayaan, cara berpikir, pendidikan dan pengalaman. Misalnya, orang Singapura sudah menyebarkan nilai kebersihan sehingga siapapun datang ke Singapura tidak berani menghisap dan membuang puntung rokok sembarangan. 


"Mulai dari diri kita sendiri. Saya punya pengalaman, saat naik taxi misalnya supir membawa kecepatan hingga 110 Km/jam jalan tol. Padahal, hanya boleh 80 Km/jam. Saya hanya bisa bilang hati-hati kepada driver," tuturnya.


Salah satu peserta S3, Radyan Prasetiyo mengatakan bahwa jika di negara lain seperti Amerika Serikat dan Australia yang memiliki local wisdom (kearifan lokal), maka Indonesia juga perlu mengangkat local wisdom sebagai cara deteksi dini keselamatan kerja. 


"Indonesia punya local wisdom, jangan keluar sore-sore menjelang magrib, menyeberang liat kiri kanan, dan turun mobil pakai kaki kiri. Mungkin kita masih kurang literatur jadi perlu penelusuran lebih lanjut," kata dia. 


Selain itu, dia melihat konsep keselamatan kerja bisa dikelola untuk perusahaan tambang yang baru berdiri tidak hanya perusahaan tambang tambang besar. 


APKPI Mendorong Penyamaan Persepsi Pengelolaan Risiko

 

Direktur APKPI, Alwahono

BOGOR-Suatu manajemen organisasi beserta jajaran direksi mesti memiliki kesamaan persepsi dalam pengelolaan resiko jika tujuan dasarnya adalah pendekatan keselamatan pertambangan.

Direktur Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI) Alwahono mengutarakan hal tersebut saat temu santai praktisi keselamatan pertambangan, akademisi, pelaku bisnis yang bergerak selain pertambangan seperti minyak dan gas, perkebunan dan lainnya pada acara Safety Sharing Session batch 3 bertemakan Konsep Makro Pengelolaan Risiko yang Efektif.

Alwahono membuka tema diskusi santai itu sebelum para pembicara memberikan materi presentasi tentang pengelolaan risiko kepada peserta.

Pembicara-pembicara tersebut adalah Dwi Pujiarso merupakan pendiri sekaligus Direktur Utama PT Indoshe, Chandra Satrya dari Dosen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Universitas Indonesia dan Budiawansyah Karta dari Pjs KTT PT Vale Indonesia Tbk. Para narasumber tersebut merupakan pakar K3.

"Topik ini sangat penting karena masih ada persepsi kita terhadap risiko masih berbeda satu sama lain. Kunci sukses mengelola keselamatan pertambangan terletak pada pengelolaan risikonya. Itu sebagai dasar pemikiran kita melakukan pengendalian segala sesuatu," kata Alwahono, Rabu (29/9/2021) malam.

Alwahono mengatakan apabila manajemen tidak mampu mengidentifikasi dan mengelola risiko maka target keselamatan tidak sejalan. Apalagi jika keselamatan di lingkungan pertambangan yang hingga hari ini belum memiliki persamaan persepsi.

Karena, keselamatan pertambangan memiliki 5 tujuan akhir bagi para pekerja tambang yaitu sehat, selamat, operasional tambang aman, efisien dan produktif.

"Setelah saya melihat langsung perusahaan-perusahaan pertambangan dari Aceh hingga Papua, ternyata persepsi mengelola resiko bervariasi," ujarnya.

Chandra Satria mengatakan K3 belum dipahami sebagai sentral sebuah pengelolaan risiko. Cenderung saat berbicara tentang pengelolaan risiko, manajemen organisasi mengulas aspek-aspek lain bukan kepada inti keselamatan.

Dia memberikan contoh, kalau berada di hutan saat bertemu dengan singa maka untuk mengatasinya adalah singa dimasukan ke dalam kurungan besi agar potensi mengancam manusia berkurang.

"Mohon maaf pemahaman risiko saat ini masih dangkal. Oleh karena itu, bersama-sama dengan APKPI mari bersama-sama memperkuat pemahaman manajemen risiko," ujarnya.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pertambangan

 



Di kehidupan sehari–hari manusia tak dapat menghindarkan diri dari berbagai tantangan, tekanan bahkan krisis, tak terkecuali dalam dunia kerja. Selain rasa jenuh, seorang pekerja juga dihadapkan pada resiko atau kemungkinan terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Resiko juga bisa berupa berupa terganggunya kegiatan operasional atau terhenti.  

Disinilah pengelolaan keselamatan pertambangan yang terdiri dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Keselamatan Operasi (KO) sangat diperlukan. Dalam dunia kerja pada umumnya dikenal dengan beragam istilah seperti: safety (keselamatan) atau OHS (Occupational Health & Safety) dan lain sebagainya, sesuai dengan kebutuhan organisasi.  

Dalam keselamatan pertambangan maka para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Ijin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) wajib melaksanakan ketentuan keselamatan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Permen ESDM No. 26.K/Th 2018, pasal 3 ayat (3) huruf c dan huruf d. Peraturan itu menyatakan perusahaan wajib melaksanakan kaidah teknik pertambangan yang baik, antara lain yang terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja  (K3) pertambangan dan Keselamatan Operasi (KO) pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Perusahaan wajib menyediakan segala peralatan, perlengkapan, alat pelindung diri, fasilitas, personil, dan biaya yang diperlukan untuk terlaksananya ketentuan keselamatan pertambangan. Selain itu wajib membentuk dan menetapkan organisasi bagian keselamatan pertambangan berdasarkan pertimbangan jumlah pekerja, sifat, atau luas area kerja.

Masih pada ayat (1) dalam ketentuan keselamatan pertambangan bahwa pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan mineral dan batubara meliputi manajemen risiko, program keselamatan kerja mulai dari pencegahan terjadinya kecelakaan, kebakaran, kejadian lain yang berbahaya, pendidikan dan pelatihan keselamatan kerja, administrasi keselamatan kerja, manajemen keadaan darurat, inspeksi keselamatan kerja, pencegahan dan penyelidikan kecelakaan. 

Sementara itu dari aspek kesehatan kerja pertambangan di dalamnya meliputi kebijakan, kebutuhan, dan proses manajemen risiko menerapkan program kesehatan kerja untuk program kesehatan pekerja atau buruh, higienis dan sanitasi, ergonomis, pengelolaan makanan, minuman, dan gizi pekerja atau buruh, diagnosis dan pemeriksaan penyakit akibat kerja. 

Khusus di lingkungan kerja pertambangan maka pengelolaannya dilakukan dengan cara antisipasi, pengenalan, pengukuran dan penilaian, evaluasi, serta pencegahan dan pengendalian bahaya dan risiko di lingkungan kerja. Sejumlah pengendalian bahaya dan risiko meliputi debu, kebisingan, getaran, pencahayaan, kuantitas dan kualitas udara, iklim kerja, radiasi, faktor kimia, faktor biologi, kebersihan lingkungan kerja. 

Pemimpin yang bertanggung jawab terhadap keselamatan operasi pertambangan mineral dan batubara paling tidak harus memperhatikan sejumlah hal.  Mulai dari sistem dan pelaksanaan pemeliharaan atau perawatan sarana prasarana, instalasi, dan peralatan pertambangan. Terkait peralatan pertambangan tim merencanakan, menunjuk dan melaksanakan sistem pemeliharaan atau perawatan sarana, prasarana, instalasi, dan peralatan pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan dan standar nasional atau internasional. Tim tersebut memperhatikan pengamanan instalasi, tenaga teknis bidang keselamatan operasi yang kompeten, kelayakan sarana, prasarana instalasi, dan peralatan pertambangan dengan melaksanakan uji dan pemeliharaan kelayakan, evaluasi laporan hasil kajian teknis pertambangan, keselamatan bahan peledak dan peledakan, keselamatan fasilitas pertambangan, keselamatan eksplorasi, keselamatan tambang permukaan, keselamatan tambang bawah tanah, keselamatan kapal keruk atau hisap. 

Keselamatan pertambangan yang tidak boleh dikesampingkan adalah pada ayat wajib memeuhi studi kelayakan, dokumen lingkungan hidup, dan Rencana Kerja Anggaran Biaya Tahunan (RKAB) yang telah disetujui sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pentingnya Keselamatan di Industri Pertambangan dan Minyak Bumi

 


Siapa sih yang ingin celaka? Tentu saja tidak ada seorang pun yang ingin celaka. Tapi risiko kecelakaan dapat berlangsung setiap saat serta dimanapun termasuk di linkungan tempat kerja. Nah, Keselamatan serta Kesehatan Kerja yg seringkali dipersingkat K3 salah satu ketentuan pemerintah yang menjamin keselamatan serta kesehatan kita dalam bekerja. Jadi, tidak ada salahnya kita pelajari lebih jauh tentang K3.

Keselamatan serta Kesehatan Kerja ialah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat serta aman baik itu bagi kerjaannya, perusahaan atau bagi masyarakat serta lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja itu. Keselamatan serta kesehatan kerja adalah suatu usaha untuk mencegah tiap tindakan atau kondisi tidak selamat, yang bisa menyebabkan kecelakaan

Apa di Indonesia, ada Undang-Undang yang mengendalikan tentang K3? Jawabannya ada. Undang-Undang yang mengendalikan K3 ialah seperti berikut :

Undang-undang No. 1 Tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja

Undang-Undang ini mengendalikan dengan jelas mengenai kewajiban pimpinan tempat kerja serta pekerja dalam melakukan keselamatan kerja.

Undang-undang nomor 23 tahun 1992 mengenai Kesehatan.

Undang- Undang ini mengatakan jika dengan khusus perusahaan berkewajiban periksakan kesehatan badan, kondisi mental serta potensi fisik pekerja yang baru atau yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai sifat-sifat pekerjaan yang diserahkan kepada pekerja, dan kontrol kesehatan dengan berkala. Sebaliknya para pekerja berkewajiban menggunakan alat pelindung diri (APD) dengan tepat serta benar dan mematuhi semua ketentuan keselamatan serta kesehatan kerja yang diwajibkan. Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23 Mengenai Kesehatan Kerja mengutamakan pentingnya kesehatan kerja agar tiap pekerja bisa bekerja dengan sehat tanpa membahayakan diri kita serta masyarakat sekelilingnya sampai diperoleh produktifitas kerja yang maksimal. Karenanya, kesehatan kerja mencakup pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit karena kerja serta ketentuan kesehatan kerja.

Terus Menguat, Harga Batu Bara Acuan Juni Tertinggi Selama 2021



Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) Indonesia pada Juni 2021 sebesar US$ 100,33 per ton. Angka tersebut naik US$ 10,59 per ton dibandingkan Mei, yakni US$ 89,74 per ton. Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2018, yaitu US$ 97,90 per ton. 

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan beberapa faktor di balik tren kenaikan harga batu bara dalam dua bulan terakhir. Faktor pendorong utamanya adalah peningkatan permintaan dari Tiongkok akibat periode musim hujan di negara tersebut, serta semakin tingginya harga batu bara domestik Tiongkok.

"Kenaikan permintaan (Tiongkok) untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik," kata Agung seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Rabu (2/6). Agung menambahkan musim hujan ekstrem, juga turut memperketat kapasitas pasokan batubara Tiongkok. Faktor ini yang memicu harga batu bara global ikut terimbas naik.

Perhitungan nilai HBA sendiri diperoleh dari rata-rata empat indeks harga batu bara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya. 

Sebagai catatan, nilai HBA sejak tahun 2021 cukup fluktuatif. Dibuka pada level US$ 5,84 per ton di Januari, HBA naik pada Februari menjadi US$ 87,79 per ton. Pada Maret, harganya sempat turun menjadi US$ 84,47 per ton.   Sementara dalam dua bulan terakhir, HBA mengalami kenaikan. Pada April sebesar US$ 86,68 per ton dan menjadi US$ 89,74 pada Mei.

Perubahan HBA diakibatkan oleh faktor turunan supply (pasokan) dan faktor turunan demand (permintaan). Faktor turunan supply dipengaruhi season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara pemasok, hingga teknis di rantai pasok distribusi seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro. Nilai HBA bulan Juni ini akan dipergunakan pada penentuan harga batu bara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel) selama sebulan. 

 

APKPI Kalimantan Timur Terbentuk

 


Perusahaan-perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Kalimantan Timur,  kini sudah memiliki Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI). Pengukuhan Dewan Pengurus Wilayah APKPI Kalimantan Timur, dilakukan oleh Direktur APKPI, Edy Saptono pada 14 November 2015, di Samarinda, Kalimantan Timur.

Pengukuhan Ketua DPW APKPI Kalimantan Timur, ditandai dengan penyematan pin dan penyerahan bendera APKPI kepada Boorlian Satryana, selaku Ketua APKPI DPW Kalimantan Timur. Pengukuhan tersebut dilakukan bersamaan dengan penutupan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) Strategi Implementasi Sistim Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP ) angkatan XII, yang diprakarsai oleh APKPI Pusat dan Kementrian ESDM di Hotel Horison sejak tanggal 10 sampai 14 Nopember 2015.

Dalam pemaparannya, Edy Saptono menyampaikan sejarah pembentukan APKPI, visi misi, struktur kepengurusan APKPI Pusat dan program kerja utamanya. “APKPI wilayah Kaltim merupakan media bagi setiap perusahaan tambang di wilayah Kaltim, untuk memperoleh setiap informasi mengenai keselamatan. Karena salah satu tugas (APKPI) adalah mensosialisikan permen no 38 tahun 2014, kepada setiap perusahaan tambang”, kata Edy Saptono.

Hadir pada kesempatan itu, Kasubdit Teknis Pertambangan Ditjen Minerba Kementerian ESDM Eko Gunarto yang juga menjabat sebagai Pembina APKPI. Dalam sambutannya, Eko mengharapkan dengan pengukuhan DPW APKPI Kalimantan Timur, akan menjadi wadah bagi semua perusahaan pertambangan di wilayah Kalimantan Timur untuk berbagi informasi dalam hal keselamatan di sektor pertambangan, dalam rangka mendukung operasi pertambangan yang produktif, efektif dan efisien.

APKPI, imbuhnya diharapkan  akan menjadi jembatan untuk menghasilkan kesamaan dalam penerapan kaidah-kaidah keselamatan pertambangan melalui disahkannya permen ESDM no 38 tahun 2014 tentang Penerapan Sistim Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara.

APKPI merupakan asosiasi profesi keselamatan pertambangan, beranggotakan praktisi-praktisi pertambangan mineral dan batubara. APKPI diharapkan akan menjadi wadah informasi di sektor pertambangan, khususnya dalam hal keselamatan. APKPI dibentuk pada pertemuan teknis Kepala Inspektur Tambang (KAIT ) dan Kepala Teknik Tambang (KTT) tanggal 29 Nopember 2013, di Jakarta, dengan pengukuhan Akta Notaris Nomor 07 tanggal 17 April 2014.

Program kerja pertama dari pembentukan APKPI ini adalah mensosialisasikan peraturan menteri ESDM no 38 tahun 2014 melalui seminar, dan DIKLAT. DIKLAT yang diselenggarakan di Samarinda pada November tahun ini, merupakanpendidikan dan pelatihan angkatan ke XII yang dihadiri oleh 60 peserta dari perusahaan pertambangan dan jasa pertambangan. Bacaselengkapnya

Kuliah Umum Bersama Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI)

 


Pada hari Selasa, 31 Mei 2016 telah terlaksana kegiatan kuliah umum K3 dengan tema “Membentuk generasi berbudaya K3” bersama APKPI (Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia). Seminar ini diadakan di Gedung Serbaguna ULM Banjarbaru dengan total kurang lebih 300 peserta dari berbagai program studi.

Kegiatan kuliah umum tersebut dibuka oleh Wakil Dekan III Bapak Nurhakim, MT. Narasumber seminar ini yaitu Bapak Sapari (Direktur PJK3) dan Bapak Masyhur (Manager HSE PT. THIESS Indonesia). Bapak Sapari selaku direktur PJK3 Memberikan materi System Management Keselamatan Petambangan dan Bapak Mashur Selaku Manager HSE PT. THIESS Indonesia memberikan materi tentang Safety Leadership. Kegiatan Seminar ini juga dihadiri oleh beberapa perwakilan APKPI Jakarta, APKPI Kalimantan Timur, APKPI Kalimantan Selatan, dan PT. Adaro Indonesia.

Materi yang pertama disampaikan oleh Bapak Sapari tentang “System Management Keselamatan Pertambangan.” Peraturan tentang system manajemen keselamatan pertambangan mineral dan batubara telah disusun berdasarkan PERMEN ESDM No. 38 Tahun 2014. Adana peraturan tersebut bertujuan memberikan pengetahuan tentang system manajemen keselamatan pertambangan dan memberikan kiat/ motivasi penerapan system manajemen keselamatan pertambangan minerba dalam berkarya dan keseharian untuk menjadi bagian masyarakat berbudaya K3. Diakhir materi yang disampaikan belaiu berpesan “dalam engelola system manajemen Keselamatan Petambangan kita harus membulatkan tekad hati, pikiran jiwa, dan raga semoga tetap sehat, selamat, sejahtera, dan sukses selalu”.

Setelah menerima materi tentang system manajemen keselamatan pertambangan mineral dan batubara. Kemudian, dilanjutkan dengan materi kedua dari Bapak Mashur tentang “Safety Leadership.” Beliau berpengalaman selama 24 tahun di industri pertambangan dan konstruksi, meliputi Mining engineering, Mining operasi, Safety management, audit dan training. Menurut Bapak Mashur Safety leadership adalah kwalitas personal yang harus ditunjukkan oleh seorang leader dan suatu keahlian yang harus dimiliki oleh seorang leader. Bacaselengkapnya

APKPI Periode 2020-2024 Siap Hadapi Revolusi Industrri 4.0


Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI) secara resmi mengukuhkan kepengurusan DPP APKPI Periode 2020-2024 secara virtual dengan dihadiri lebih kurang 1.000 orang, Sabtu (9/1/2021). Baca juga: Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 1,5 Km, Tinggi Kolong 500 Meter

Usai pengukuhan, acara dilanjutkan dengan kegiatan seminar bertema “Strategi Menghadapi Tantangan Perkembangan Teknologi 4.0 di Pertambangan Mineral dan Batubara” menghadirkan nara sumber Dr Lana Saria, S.Si, M.Si, Frans Kesuma dan Ridwan Z. Syaaf, Drs (Psi), MPH.

Berdasarkan Surat Keputusan Nomor 001.K/APKPI/XII/2020, Struktur Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) APKPI terdiri dari Pelindung: Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Pembina: Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Pengawas: Eko Gunarto, Dewan Penasehat: MS Marpaung, Bambang Susigit, Candra Satrya, Dwi Pudjiarso, Dewan Pendiri: seluruh pendiri APKPI, Direktur APKPI: Alwahono, Sekretaris Jenderal: Ade Kurdiman, Bendahara Umum: Rahmad Subagyo.

Acara ini juga terselenggara atas dukungan Kementerian ESDM Dirjen Minerba dan Direktorat Teknik Lingkungan dan Minerba, PT Lana Harita Indonesia, PT Pama Persada Nusantara, PT Prodia Husada, PT Kalimantan Prima Persada, PT Putra Perkasa Abadi, PT Kideko Jaya Agung, PT Agen Co Resources, PT Gagas Evirotex Indonesia, PT Mitra Usaha Katiga, PT Sapta Indra Sejati, CV Optik Juara, PT IndoShe, PT Allsys Solutions, PT Petrosea Tbk, dan Lembaga Sertifikasi Profesi GBPP.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur APKPI, Alwahono mengatakan, melimpahnya kekayaan mineral maupun batubara yang diciptakan oleh Allah SWT mampu menghidupi bangsa Indonesia yang besar ini jika dikelola dengan bijaksana. Kekayaan mineral dan batubara bukan sesuatu yang patut dibanggakan karena itu adalah pemberian Sang Pencipta, namun harus kita syukuri. Kita akan bangga apabila dapat mengelolanya dengan baik. Untuk itu, melalui APKPI kita berharap dapat berperan serta dalam pengelolaan pertambangan terbaik, terutama yang berkaitan dengan keselamatan pertambangan. Baca selengkapnya




© all rights reserved allsysmedia.com
APKPI