Vale Indonesia Teken MoU Produksi 60.000 Ton Nikel Bersama Huayou

Vale Indonesia, Nikel, Huayou, Listrik, Baterai, Kolaka, HPAL, Sorowako,
Karyawan Vale Indonesia sedang memantau proses pengangkutan bijih nikel. Foto: PT Vale Indonesia Tbk

MINESAFETY -- PT Vale Indonesia Tbk resmi tanda tangan bersama Zhejiang Huayou Cobalt Company (Huayou) untuk mengembangkan smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Sorowako dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 60.000 ton nikel.

Pabrik HPAL akan mengolah bijih nikel limonit menjadi produk Mixed Hydroxide Precipitate kemudian dapat diolah menjadi bahan untuk komponen baterai, misalnya untuk kendaraan listrik.

CEO PT Vale, Febriany Eddy mengatakan kerjasama proyek pengembangan ini adalah salah satu bentuk realisasi komitmen pertambangan berkelanjutan dan strategi Vale Indonesia dalam menunjang program Pemerintah untuk membuat ekosistem mobil listrik di Indonesia.

"Salah satu poin terpenting dari kerjasama ini adalah komitmen para pihak untuk mencapai netralitas karbon pada 2050 dan kesepakatan untuk bekerja sama dalam meminimalkan emisi karbon. Huayou akan berdiskusi lebih lanjut dengan Vale Indonesia untuk mempelajari alternatif energi rendah karbon," kata Febriany Eddy dikutip Minesafety, Rabu (14 September 2022).

Sebelumnya, kedua belah pihak telah melaksanakan kerjasama dimulai awal tahun ini dan Huayou melakukan studi kelayakan. Studi kelayakan telah disimpulkan dengan hasil positif. Dengan itu kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan kerjasama, dengan menandatangani The Heads of Agreement yang akan menjadi acuan untuk kesepakatan lebih lanjut, pada 13 September 2022.

Presiden Komisaris Vale Indonesia dan Wakil Presiden Eksekutif Vale Base Metals Deshnee Naidoo mengatakan Perjanjian kemitraan ini merupakan katalis lain untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan dari sumber daya nikel kelas dunia Indonesia dan bersama dengan kemajuan terbaru pada fasilitas HPAL Pomalaa dan Proyek Blok Bahodopi.

"Kerjasama itu menunjukkan bahwa kami berkomitmen untuk melaksanakan proyek pertumbuhan berkelanjutan generasi berikutnya dengan dampak ingkungan yang minimal untuk kepentingan pemangku kepentingan lokal dan nasional," kata Deshnee.

Huayao akan membangun pabrik HPAL itu dengan teknologi dan proses sesuai standar kelas dunia. Adapun Vale Indonesia menambang nikel berupa bijih limonit dan bijih saprolit berkadar rendah. Dari operasional HPAL di Blok Pomalaa menargetkan kapasitas produksi hingga 120.000 metrik ton nikel/tahun.

Chairman Zhejian Huayou, Chen Xuehua sebelumnya pada 9 Juni 2022 datang langsung ke Kolaka, Sulawesi Tenggara mengunjungi lokasi proyek pelabuhan, area penambangan dan rencana HPAL Plant.

Vale mengabarkan penyelesaian pembangunan fasilitas HPAL dan mulai beroperasi ditargetkan terwujud pada 2025 yang tentunya bergantung pada negosiasi dan pelaksanaan kesepakatan definitif.


© hak terpelihara
supported by borneoglobe.org