PT Timah Tbk Tanam Pohon di Lahan Kritis Bekas Tambang Ilegal

Lahan Kritis, Bangka Belitung, PT Timah Tbk, Pohon, Kelompok Tani, Sayur-Sayuran

Manajemen PT Timah Tbk dan perwakilan pemerintah daerah saat menanam pohon di lahan kritis bekas tambang Kaki Menumbing, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Foto: PT Timah Tbk.

MINESAFETY -- PT Timah Tbk, BUMN produksi timah terus mengalakkan upaya menghijaukan kawasan bekas tambang kali ini menanam kembali pohon di Kaki Menumbing, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat.

Direktur Utama PT Timah Tbk, Achmad Ardianto mengatakan korporasi sudah menyediakan sarana alat berat untuk me-land clearing areal tersebut sehingga mudah untuk ditanami pohon-pohon.

"Kawasan ini dulu lahan bekas tambang tanpa izin, kami mereklamasi lahan bekas tambang untuk menanam dan reklamasi bentuk lain sebagai dukungan program Hijau Biru Babelku. PT Timah Tbk membantu penyediaan alat berat melakukan land clearing di areal tersebut," kata Achmad di sela penanaman pohon di Kaki Menumbing dikutip Minesafety, Selasa (16 Agustus 2022).

Selain menanam pohon di lahan kritis, PT Timah Tbk juga melibatkan masyarakat untuk mengembangkan usaha pertanian seperti kelompok tani Agro Jaya Kundur.

Korporasi mendampingi kelompok tani sekaligus memberikan modal pengembangan usaha pertanian. Sejauh ini ada tanaman seperti cabai, sawi, timun, kacang panjang, jagung dan sayur-sayur lainnya.

Sebanyak 20 orang dalam anggota yang mengelola lokasi tanaman sayur-sayuran tersebut sempat mengalami kesulitan pendapatan karena pandemi Covid-19.  

Ketua Kelompok Tani Agro Jaya Kundur Agus Salim mengatakan daya beli masyarakat menurun juga mempengaruhi omset petani. Selain itu, kapal menjual hasil di luar pulau Kundur sempat tidak beroperasi karena pembantasan jarak akibat adanya Covid-19.

"Harga jual menurun tidak sebanding biaya perawatan dan pengolahan, alhamdullilah saya mendapatkan informasi dari sesama pedagang di pasar tentang program kemitraan dari PT Timah," kata Agus.

Semenjak menjadi mitra binaan perusahaan, kata Agus, usaha mulai berkembang dan seiring dengan permintaan dari luar pulau Kundur normal.

© hak terpelihara
supported by borneoglobe.org