Antam dan PLN MoU Pasok Energi Dukung Hilirisasi Feronikel

 

Foto: Produksi feronikel di smelter PT Aneka Tambang Tbk. Sumber: Antam

MINESAFETY -- PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) menandatangani kerjasama dengan PT PLN untuk suplai listrik di pabrik feronikel ANTAM Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Sulteng) untuk mendukung ketahanan listrik di wilayah produksi feronikel Antam dan bagian komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Kedua BUMN itu bersepakat dalam nota kesepahaman untuk pengadaan suplai listrik sebesar 150 (megavolt) MVA ke tiga line pabrik feronikel dari grid PLN yang memiliki kemampuan mengurangi emisi gas karbon hingga lebih dari 50%.

Selain di Pomalaa Sulteng, Antam dan PLN juga telah menjalin penandatanganan pokok-pokok kerjasama (Head of Agreement/HOA) untuk pengadaan pasokan listrik feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara untuk memenuhi pengadaan kebutuhan listrik 75 MMVA selama 30 tahun ke depan.

Tidak hanya Antam, PLN melakukan MoU bersama 5 perusahaan lain untuk menyediakan pasokan listrik di wilayah Sulawesi total sebesar 3.168 MVA sebagai upaya mendukung kebijakan pemerintah agar Antam meningkatkan nilai tambah produk tambang dalam negeri lewat hilirasasi mineral.

Adapun perusahaan tersebut dari keterangan pers PLN meliputi PT Sarana Mineralindo Perkasa sebesar 90 MVA, PT Gorontalo Mineral sebesar 100 MVA, PT Kawasan Industri Mongondow sebesar Rp1.000 MVA, Huayou International Mining (Hongkong) Ltd sebesar 1.743 MVA, PT Indone Nickel Industry sebesar 85 MVA dan Antam 150 MVA tadi.

"Industri smelter membutuhkan energi listrik sangat besar dan PLN siap memenuhi dengan pasokan listrik andal, berkualitas, dan harga kompetitif," kata Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara (Sulmapana) PLN Adi Priyanto dari siaran pers dikutip Minesafety usai penandatanganan MoU, baru-baru ini.

Sementara itu, Antam mengharapkan penandatangan MoU dengan PLN itu sebagai upaya perusahaan menerapakan pemakaian bahan bakar B30 untuk kendaraan operasional tambang, penggunaan panel surya untuk penerangan jalan tambang di beberapa unit bisnis, dan penggantian bahan bakar dalam kegiatan pengolahan bijih nikel dari marine fuel oil menjadi dual fuel pada proses feronikel.

Smelter feronikel di Haltim memiliki kapasitas 13.500 ton nikel yang akan menambah portofolio total kapasitas produksi terpasang feronikel tahunan Antam menjam 40.500 TNi.

Secara keseluruhan produksi feronikel Tanah Air, Antam menargetkan volume produksi dan penjualan sepanjang 2022 ini mencapai 24.000 hingga 25.000 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Post a Comment

Post a Comment