Proyek CCS/CCUS Indonesia Siap Mengurangi Emisi CO2

CCS/CCUS, emisi, CO2
Ilustrasi: Pembangkit listrik. 

MINESAFETY -- Indonesia tengah menyiapkan pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS) untuk memenuhi target Net Zero Emission (NZE) atau mengurangi emisi global termasuk dari komoditas batubara Indonesia. 

Kesiapan Indonesia mengembangkan proyek dan studi teknologi CCS/CCUS yang sudah mulai berjalan baik di sejumlah wilayah kerja Minyak dan Gas (Migas). Lokasi proyek itu seperti CCS memproduksi blue amonia di Sulawesi Tengah, studi CCS/CCUS Kalimantan Timur, studi CCUS batubara ke Dimethyl Ether (DME), dan sejumlah calon proyek yang sedang tahap studi atau persiapan. 

"Studi maupun proyek CCS/CCUS di Indonesia yang tengah berjalan memiliki potensi simpanan CO2 total sekitar 41 juta ton CO2. Sesuai peta jalan International Energy Agency (IEA), teknologi CCS/CCUS berkontribusi mengurangi emisi kumulatif secara global lebih dari 10% dpada 2050," kata Tutuka Ariadji sebagai Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian (ESDM) dari rilis dikutip minesafety, Jumat (15 April 2022). 

Hal itu disampaikan oleh Tutuka pada event series: Making CCS/CCUS Affordable: Enabling CCUS Deployment in G20 and Beyond di Jakarta, pada Rabu (13 April 2022). Dalam kegiatan itu, dia mengatakan CCS/CCUS bagi indonesia memiliki peran ganda yakni selain mendukung target penurunan emisi Indonesia juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi migas melalui CO2-Enhanced Oil Recovery (EOR) atau Enhanced Gas Recovery (EGR). 

"Dari hasil kajian Puslitbang migas, Indonesia memiliki potensi penyimpanan sekitar 2 giga ton CO2 yang tersebar di beberapa wilayah, Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Papua. Potensi saline aquifer 9,68 giga ton CO2 dari cekungan Sumatra Selatan dan Barat," kata Tutuka. 

Dia mengatakan bahwa pengembangan CCS/CCUS membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Termasuk pemerintah, menurutnya, akan selalu mendukung semua pemangku kepentingan yang mempromosikan teknologi CCS/CCUS untuk diterapkan di Indonesia. 

Sebagai informasi, kesepakatan pengembangan CCS/CCUS saat digelar dalam Conference of Parties (COP) ke-26 di Glasgow, Skotlandia pada 31 October - 13 November 2021 lalu. Selanjutnya, istu itu menjadi bagian dari bahasan utama pada Energy Transitions Working Group (ETWG) G20 di Indonesia pada Maret 2022, baru-baru ini. 

Saat itu, Chair of ETWG G20 2022 Yudo Dwinanda Priadi mengatakan skenario CCUS di kawasan regional ASEAN saja akan membutuhkan investasi jumbo sebesar US$ 1 miliar/tahun mulai 2030. 

"Tantangannya dalam pengembangan teknologi CCS/CCUS membuat harga lebih terjangkau. Biaya untuk menangkap [teknologi] CO2 menyumbang porsi terbesar sekitar 70-75% dari total biaya CCUS. Ini bervariasi tergantung pada struktur geoglogi lokal, kedekatan dengan kawasan industri, dan dukungan peraturan pada proyek percontohan CCUS," ujar Yudo.   

© all rights reserved allsysmedia.com
APKPI