Swiss-Indonesia Kerjasama Peningkatan Kompetensi SDM EBT

Ilustrasi: Pembangkit listrik di sekitar sungai. Foto: Pixabay 

MINESAFETY -- Pemerintah Swiss dan Indonesia menjalin kerjasama kompetensi dosen dan pranata laboratorium di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) guna mendorong target bauran energi terbarukan tercapai. 

Pemerintah menilai pembangkit listrik berbasis EBT akan terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang seiring penambahan kapasitas pembangkit listrik sekitar 40.000 Megawatt (MW) dan meningkatnya permintaan terhadap energi kelistrikan. 

Kerjasama dengan Swiss itu melalui proyek hibah pembangunan State Secretariat for Economic Affairs (SECO) untuk lima politeknik negeri bidang PLTA di tanah air. Adapun kampus yang menerima hibah pelatihan tersebut adalah Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas Cepu, Politeknik Negeri Bali, Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik Negeri Manado, dan Politeknik Negeri Ujung Pandang. 

Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kerjasama itu diharapkan dapat membantu percepatan penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan (EBT). 

"Kerjasama diharapkan dapat mendukung peningkatan kilowatt hour (kWh) per kapita. Selain itu mendorong, tercapatinya target bauran energi EBT sebesar 23% pada 2025 dan menjadi bagian konkrit dari langkah-langkah transisi energi menuju net zero emission pada 2060 atau lebih cepat," kata Laode dari keterangan pers dikutip Minesafety, Senin (28 Maret 2022). 

Pelatihan yang digelar selama 2 minggu dari 21 Maret hingga 2 APril 2022 itu berlangsung di ASEAN Centre for Hydropower Competence (HYCOM) notabene pusat pelatihan kompetensi yang dikelola PT Entec dan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Penditikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI) di Bandung, Jawa Barat. 

Penguatan kompetensi itu didampingi tenaga ahli industri mencakup materi pelatihan seperti teknis desain, perencanaan, pemasangan, pengoperasian, pemeliharaan, dan supervisi PLTA. Para peserta juga mengunjungi lokasi PLTMH di kebun teh Dewata Cikahuripan, CV Protel Multi Energy dan PT Heksa Prakarsa Teknik, Bandung. 

Rangkaian pelatihan tersebut merupakan bagian dari Renewable Energy Skills Development (RESD) sebagai bagian proyek selama 5 tahun bekerjasama antara SECO dan 3 lembaga kementerian Indonesia yakni Kementerian ESDM, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Kementerian Ketenagakerjaan. 

Tidak cukup sampai pada pelatihan saja, Pemerintah Swiss dan RI juga turut memberikan dukungan peralatan laboratorium energi solar dan hidro bagi masing-masing politeknik yang terlibat serta memperkuat kerjasama dengan industri EBT melalui program magang industri. 

KEBUTUHAN LISTRIK
Kebutuhan energi, dari data Kementerian ESDM, masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar 47% atau sekitar 34.856 Mw, disusul Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTGA) mencapai 20,938 Mw atau sebesar (28%), selanjutnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 6.255 Mw atau sebesar 9%, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebesar 4.932 Mw atau 7%, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 2.174 Mw atau 3%, PLTU Minyak atau Gas sebesar 2.060 Mw atau 3% dan PLT EBT lainnya sebesar 2.215 Mw atau 3%. 

Produksi listrik volume PLTU sendiri realisasinya saat ini masih membutuhkan pasokan batubara sebesar 32,76 juta ton. Setelah itu, sisanya dipasok dari gas 17%, air sebesar 7,05%, panas bumi sebesar 5,61%, bahan bakar minyak 3,04%, Bahan Bakar Nabati (BBN) sebesar 0,31%, biomassa 0,18%, surya 0,04% dan EBT lainnya 0,14%. 

Post a Comment

Post a Comment